Fajar
Dhuha
Zuhur
Asar
Magrib & malam
Sirah harian
Sehari Bersama Nabiﷺ
A Day in The Prophet's Life
Dr. Abdul Wahhab ath-Thurairi
Alih bahasa: Abdul Khoir Rahmat, Lc

 Mulai dari fajar
Lanjutkan: 
20 bab · dari azan Bilal sampai tidur sahur
Latar berubah mengikuti waktu yang sedang dibaca.

Daftar isi
Sehari Bersama NabiA− A+
Ikut waktu 
Satu bab 

Pendahuluan Cahaya Fajar Pagi Hari Bersama Nabi ﷺ Majelis Nabi Kunjungan-Kunjungan Rasulullah ﷺ Beliau ﷺ Berjalan di Pasar Kunjungan Rasulullah ﷺ Bersama Para Sahabat Menjenguk Orang Sakit Istirahat Qailulah Perjalanan ke Quba Amalam-Amalan Rasulullah ﷺ di Waktu Sore Shalat Ashar Setelah Maghrib Shalat Isya Malam-Malam Rasulullah ﷺ Malam Qiyamul Lail Langkah-Langkah di Keheningan Malam Renungan Tidur Sejenak Menjelang Fajar Membaca Hari Nabi


Daftar isi
  1. PendahuluanSebelum fajar · Muqaddimah2m
  2. Cahaya FajarFajar · Azan Bilal sampai iqamah6m
  3. Pagi Hari Bersama Nabi ﷺTerbit · Setelah Subuh sampai matahari naik6m
  4. Majelis NabiDhuha · Majelis pagi di masjid10m
  5. Kunjungan-Kunjungan Rasulullah ﷺDhuha · Keluar berkunjung2m
  6. Beliau ﷺ Berjalan di PasarDhuha · Di pasar Madinah2m
  7. Kunjungan Rasulullah ﷺ Bersama Para SahabatDhuha · Bersama para sahabat2m
  8. Menjenguk Orang SakitDhuha · Menjenguk yang sakit1m
  9. Istirahat QailulahDhuha tinggi · Istirahat siang di rumah5m
  10. Perjalanan ke QubaSiang · Sabtu, berjalan ke Quba1m
  11. Amalam-Amalan Rasulullah ﷺ di Waktu SoreZuhur · Matahari tergelincir3m
  12. Shalat AsharAsar · Sore bersama keluarga5m
  13. Setelah MaghribMagrib · Makan malam di rumah5m
  14. Shalat IsyaIsya · Salat terakhir hari itu2m
  15. Malam-Malam Rasulullah ﷺAwal malam · Bersama keluarga dan sahabat6m
  16. Malam Qiyamul LailTengah malam · Qiyamul lail8m
  17. Langkah-Langkah di Keheningan MalamLarut malam · Langkah menuju Baqi'3m
  18. RenunganLarut malam · Renungan1m
  19. Tidur Sejenak Menjelang FajarWaktu sahur · Tidur sejenak menjelang fajar1m
  20. Membaca Hari NabiSehari penuh · Ringkasan dan pelajaran5m


 Pendahuluan Sebelum fajar · Muqaddimah · 2 menit baca 

Di kota penuh pohon kurma… kota hati yang segar… di sanalah bersemayam hatinya, dan di sanalah matanya berbinar. Inilah tempatnya, inilah kotanya, dan inilah keluarganya. Ketika beliau memasuki Madinah, segalanya menjadi terang benderang. Penduduknya mencintainya, begitu pula alam di sekitarnya. Gunung Uhud mencintainya dan ia pun mencintai Uhud. Lorong-lorong kota itu akan mengenal langkah-langkah kakinya. Masjid ini dengan kamar-kamar kecil di sisinya menjadi saksinya. Para sahabat yang setia mengelilinginya, mendampinginya, mencintainya, dan dicintainya. Ia bersama mereka, lalu ia juga menyendiri bersama Allah. Dalam sirah harian ini, kita menelusuri jam-jam kehidupan Nabi ﷺ seakan kita hidup bersamanya: kesederhanaan hidup yang agung, ketulusan hidup yang penuh kesungguhan, keseimbangan dalam aktivitas kehidupan, dan kesempurnaan dalam memenuhi kebutuhan. Kita melihat betapa hidupnya penuh energi dan mengalir deras dalam setiap jam harinya. Setiap momen dalam hidup beliau tidak pernah berlalu tanpa dimanfaatkan.
Beliau selalu membuat perjanjian dengan kehidupan di setiap detik: di rumahnya, di masjidnya, di jalanan Madinah, di rumah para sahabatnya, di atas tikar tempat duduknya, di atas hamparan makanannya, dan di atas pembaringan tidurnya. Mata para sahabat bagaikan kamera yang sangat tajam dalam mengamati, hingga kegelapan malam pun tak mampu menutupi hati-hati yang mencintai beliau dan ingin tahu bagaimana beliau melewati malamnya. Bahkan dinding pun tidak cukup tinggi untuk menutupi kehidupan pribadinya; hati dan mata para sahabat senantiasa bersamanya hingga beliau beristirahat di pembaringannya. Mereka menyaksikannya ketika beliau terlelap tidur, juga ketika beliau terbangun dengan semangat.
Beliau bukanlah orang biasa yang memulai dari pagi lalu meredup di malam hari. Karena begitu aktifnya, terasa seakan setiap momen adalah permulaan baru baginya. Beliau adalah sosok yang pandai memanfaatkan peluang, sosok yang hidup untuk setiap saat. Dengan fitrah seorang nabi dan rasul, beliau memahami bahwa setiap menit harus bermakna dengan pencapaian, setiap jam harus terisi dengan amal, setiap hari memiliki prestasi, sementara ajal menegakkan tendanya di tepian usia.
Dalam lembaran-lembaran ini kita hidup bersama Rasulullah ﷺ di pagi dan petangnya. Kita berjalan bersamanya di pasar-pasar Madinah, makan dari rezeki secukupnya, mendengar suaranya yang lembut saat mengajar, dan suaranya yang khusyuk saat berdoa. Kita duduk di atas tikar sederhananya, makan dari sedikit makanan yang sering beliau dahulukan untuk orang lain. Dari penuturan para sahabat, kita dapat masuk ke dalam rumahnya, melihat bagaimana beliau tidur, bahkan seakan kita bisa menjadi bayi yang berada di pangkuannya, atau anak kecil yang berada di atas punggungnya, menikmati kasih sayang dan keberkahannya.
Lalu bagaimana manusia agung dan nabi mulia ini berinteraksi dengan sisi kemanusiaannya dan dengan misi kerasulannya?!
Bagaimana beliau menjalani putaran waktu sehari-hari?!
Bagaimana beliau mengisinya?!
Inilah hari Nabi Rasulullah—manusia yang bertanggung jawab, seorang ayah, seorang suami, seorang sahabat.
Inilah “Hari Nabi”, dan kini buku ini ada di hadapanmu… Abdul Wahhab bin Nashir Ath-Thurairi Makkah al-Mukarramah, 20 Rajab 1431 H Jumat siang

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Cahaya Fajar Fajar · Azan Bilal sampai iqamah · 6 menit baca 

Cahaya fajar membelah kegelapan malam, dan suara azan Bilal raḍiyallāhu ‘anhu menggema memecah kesunyian Madinah. Pada saat itu Rasulullah ﷺ masih terlelap, memberi kesempatan tubuh mulianya beristirahat sejenak di waktu sahur setelah panjangnya shalat malam.
Ketika Bilal raḍiyallāhu ‘anhu mengumandangkan azan, Rasulullah ﷺ pun bangun. Hal pertama yang beliau lakukan adalah mengambil siwak lalu bersiwak dengannya. Kemudian beliau membaca:
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada- Nyalah tempat kembali.”
Lalu beliau menjawab seruan muazin sebagaimana yang diucapkannya:
Jika Bilal berkata: Allāhu akbar, Allāhu akbar, beliau menjawab: Allāhu akbar, Allāhu akbar. Jika Bilal berkata: Asyhadu allā ilāha illallāh, beliau menjawab: Wa anā (dan aku pun bersaksi). Jika Bilal berkata: Asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh, beliau menjawab: Wa anā (dan aku pun bersaksi).
Jika Bilal berkata: Ḥayya ‘alaṣ-ṣalāh, beliau menjawab: Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. Jika Bilal berkata: Ḥayya ‘alal-falāḥ, beliau menjawab: Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. Jika Bilal berkata: Allāhu akbar, Allāhu akbar, beliau menjawab: Allāhu akbar, Allāhu akbar. Jika Bilal berkata: Lā ilāha illallāh, beliau menjawab: Lā ilāha illallāh.
Setelah itu Rasulullah ﷺ beranjak. Jika beliau membutuhkan mandi junub maka beliau mandi, dan jika hanya perlu berwudhu maka beliau berwudhu. Kadang beliau shalat tanpa berwudhu lagi. Ketika ada yang menanyakan hal itu, beliau menjawab:
“Mataku tidur, tetapi hatiku tidak tidur.”
Kemudian beliau menunaikan shalat sunnah fajar dua rakaat, dengan bacaan yang ringan, sampai-sampai ada yang berkata: Apakah beliau hanya membaca al-Fātiḥah? Karena begitu ringannya shalat tersebut. Pada rakaat pertama biasanya beliau membaca Qul yā ayyuhal- kāfirūn, dan pada rakaat kedua Qul huwa Allāhu Aḥad. Kadang pula beliau membaca: Pada rakaat pertama: Qūlū āmannā billāh wa mā unzila ilaynā … (al-Baqarah: 136), Pada rakaat kedua: Ta‘ālaw ilā kalimatin sawā’in bainanā wa bainakum … (Āli ‘Imrān: 64). Jika selesai shalat, dan bila istrinya sudah bangun, beliau bercakap-cakap dengannya dengan obrolan penuh kasih dan kebahagiaan. Betapa indah bagi seorang istri yang memulai harinya dengan kalimat mesra dari suaminya tercinta. Namun bila sang istri masih tidur, beliau berbaring di sisi kanan tubuhnya hingga tiba waktu iqamah.
Ketika Bilal raḍiyallāhu ‘anhu melihat jamaah sudah berkumpul di masjid, ia pun mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: “Shalat, wahai Rasulullah.”
maka Rasulullah ﷺ keluar menuju mereka. Ketika keluar dari rumahnya, beliau menengadahkan pandangan ke langit seraya berdoa:
“Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, berbuat zalim atau dizalimi, berlaku bodoh atau diperlakukan bodoh.”
Kemudian ketika masuk masjid, beliau berdoa:
“Dengan nama Allah, semoga kesejahteraan tercurah kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu. Aku berlindung kepada Allah Yang Mahaagung, dengan wajah-Nya Yang Mulia, dan dengan kekuasaan-Nya yang kekal, dari godaan setan yang terkutuk.”
Apabila Bilal melihat Rasulullah ﷺ masuk ke dalam masjid, ia pun mengumandangkan iqamah. Ketika para sahabat melihat beliau datang, mereka pun berdiri untuk shalat.
Kadang beliau keluar dengan rambut yang masih meneteskan air karena bekas mandi junub. Pernah pula beliau sudah berdiri di tempat shalatnya, lalu teringat bahwa beliau dalam keadaan junub dan belum mandi. Maka beliau berkata kepada para sahabat: “Tetaplah di tempat kalian.” Lalu beliau kembali ke rumah, mandi, kemudian keluar lagi menemui mereka dengan rambut yang masih meneteskan air.
Beliau ﷺ tidak menutup-nutupi urusan ini, tidak merasa sungkan, sebab beliau adalah manusia sebagaimana manusia lainnya. Orang-orang dapat melihat dalam kehidupannya peristiwa- peristiwa yang juga mereka alami.
Ketika berdiri di tempat shalatnya, beliau berkata kepada para sahabat:
“Luruskanlah saf-saf kalian dan rapatkanlah, karena meluruskan saf termasuk bagian dari kesempurnaan shalat.”
Lalu beliau bertakbiratul ihram, kemudian diam sejenak sekadar membaca doa:
“Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahanku sebagaimana pakaian putih disucikan dari noda. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahanku dengan air, salju, dan embun.” Kemudian beliau membaca al-Fātiḥah dengan suara keras, membacanya secara jelas dan perlahan, memisahkan setiap ayat:
“Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.” lalu berhenti.
“Ar-raḥmānir-raḥīm.” lalu berhenti.
“Māliki yaumid-dīn.” lalu berhenti.
Beliau membacanya dengan tartil, memanjangkan lafaz ar-Raḥmān dan memanjangkan lafaz ar- Raḥīm. Beliau membaca surat panjang pada shalat Subuh, yakni antara enam puluh sampai seratus ayat. Apabila hari Jum‘at, pada rakaat pertama beliau membaca alif-lām-mīm tanzīlus- sajdah, dan pada rakaat kedua beliau membaca: hal atā ‘alal-insāni ḥīnun minad-dahri lam yakun syai’an mażkūrā [al-Insān: 1]
Kadang beliau melakukan doa qunūt setelah rukuk rakaat kedua, apabila terjadi musibah atau peristiwa berat yang menimpa kaum Muslimin. Beliau berdoa memohon pertolongan dan kemenangan.
Apabila selesai shalat dan salam, beliau tetap duduk di tempatnya menghadap kiblat seraya mengucapkan:
“Astaghfirullāh, astaghfirullāh, astaghfirullāh. Allahumma anta as-salām, wa minka as-salām, tabārakta yā żal-jalāli wal-ikrām.”
Kemudian beliau berpaling, terkadang ke kanan, terkadang ke kiri. Ucapan pertama yang didengar para sahabat ketika beliau menoleh kepada mereka adalah:
“Ya Rabb, lindungilah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” Lalu beliau mengucapkan:
“Lā ilāha illallāh, wahdahu lā syarīka lah, lahul-mulku walahul-ḥamdu, wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr. Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. Lā ilāha illallāh, wa lā na‘budu illā iyyāh, lahun-ni‘matu walahul-faḍlu walahuṡ-ṡanā’ul-ḥasan. Lā ilāha illallāh, mukhliṣīna lahud-dīn, wa law karihal- kāfirūn. Allāhumma lā māni‘a limā a‘ṭaita, wa lā mu‘ṭiya limā mana‘ta, wa lā yanfa‘u żal-jaddi minka al-jadd" kemudian beliau bertasbih, bertahmid dan bertakbir.
Kemudian beliau ﷺ membaca doa-doa singkat yang mengumpulkan berbagai makna zikir untuk menyambut pagi harinya, di antaranya:
“Kami telah memasuki pagi, dan kerajaan seluruhnya milik Allah. Segala puji bagi Allah. Tidak ada ilah selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan, milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabbku, aku memohon kepada- Mu kebaikan pada hari ini dan kebaikan setelahnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pada hari ini dan keburukan setelahnya. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan dari buruknya sifat tua renta. Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka dan dari siksa kubur.”
Apabila tiba waktu sore, beliau mengucapkannya pula, hanya saja dengan mengganti: “Amsainā wa amsal-mulku lillāh (Kami telah memasuki sore, dan kerajaan seluruhnya milik Allah).”
Beliau juga berdoa:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan tenangkanlah ketakutanku. Ya Allah, jagalah aku dari arah depan, dari arah belakang, dari sebelah kananku, dari sebelah kiriku, dan dari atasku. Dan aku berlindung kepada keagungan-Mu agar aku tidak dibinasakan dari bawahku.”
Doa ini tidak pernah beliau tinggalkan, baik di pagi maupun di sore hari.
Beliau juga berdoa:
“Ya Allah, sehatkanlah tubuhku. Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku. Tiada ilah selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur. Tiada ilah selain Engkau.” Doa ini beliau ulangi tiga kali setiap pagi dan sore.
Beliau juga memperbanyak istighfar, hingga setiap pagi beliau memohon ampun kepada Allah sebanyak seratus kali.
Pada waktu itu, datanglah para pembantu dari penduduk Madinah membawa wadah berisi air. Mereka mencari keberkahan dengan meletakkan tangan Rasulullah ﷺ yang penuh berkah ke dalam bejana mereka. Setiap wadah yang dibawa, beliau celupkan tangannya ke dalamnya. Bahkan kadang mereka mendatanginya pada hari yang sangat dingin, dan beliau tetap meletakkan tangannya ke dalam wadah mereka.

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Pagi Hari Bersama Nabi ﷺ Terbit · Setelah Subuh sampai matahari naik · 6 menit baca 

Kemudian barisan para sahabat pun merapat, mereka mengelilingi Rasulullah ﷺ yang sedang duduk di tempat shalatnya, menghadap kepada mereka. Maka cahaya pagi tampak berpadu dengan cahaya wajah Rasulullah ﷺ. Terkadang beliau memulai dengan memberi nasihat, sebagaimana dalam hadis Al-‘Irbadh bin Sariyah radiyallahu 'anhu., ia berkata: “Rasulullah ﷺ menasihati kami pada suatu hari setelah shalat Subuh dengan nasihat yang sangat menyentuh, hingga berlinanglah air mata dan hati pun bergetar. Lalu seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, seakan-akan ini nasihat perpisahan; maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?’ Beliau menjawab: ‘Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi. Karena barang siapa di antara kalian hidup setelahku, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama), karena itu adalah kesesatan. Barang siapa yang mendapati hal itu, hendaklah ia berpegang pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk sepeninggalku; peganglah ia erat-erat dengan gigi geraham kalian." Rasulullah ﷺ tidak sering memberi nasihat seperti itu, melainkan sesekali agar tidak membuat bosan, namun cukup untuk menjaga hati mereka tetap hidup.
Kadang beliau berbicara kepada mereka. Pernah setelah shalat Subuh, beliau menoleh kepada orang-orang dan bersabda:
“Ketika seorang laki-laki sedang menggiring sapinya yang ia gunakan untuk mengangkut beban, tiba-tiba sapi itu menoleh dan berkata kepadanya: ‘Aku tidak diciptakan untuk ini, aku hanya diciptakan untuk membajak tanah.’” Maka orang-orang pun terheran dan berkata: “Subhanallah! Seekor sapi bisa berbicara?” Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku mempercayainya, begitu juga Abu Bakar dan Umar.”
Kemudian beliau bersabda:
“Ketika seorang penggembala sedang bersama dombanya, tiba-tiba seekor serigala menyerang dan merampas seekor domba. Penggembala itu mengejarnya hingga berhasil merebut kembali dombanya. Maka serigala itu menoleh kepadanya dan berkata: ‘Siapa yang akan menjaganya pada hari binatang buas, ketika tidak ada gembala selain aku?’” Orang-orang kembali berkata: “Subhanallah!” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku mempercayainya, begitu juga Abu Bakar dan Umar.”
Padahal ketika itu Abu Bakar dan Umar tidak hadir, tetapi Rasulullah ﷺ menegaskan iman mereka, karena yakin akan keteguhan hati mereka radiyallahu 'anhu.
Kadang beliau ﷺ mendekati para sahabat ketika mereka berkumpul, lalu bersabda: “Apakah ada di antara kalian orang sakit yang bisa kita jenguk?” Jika mereka menjawab: “Tidak ada.” Beliau bertanya lagi: “Apakah ada jenazah yang bisa kita hadiri?” Jika mereka menjawab: “Tidak ada.” Beliau berkata: “Siapa di antara kalian yang melihat mimpi? Ceritakanlah kepadaku agar aku dapat menafsirkannya.” Maka mereka pun menceritakan mimpi-mimpi mereka, lalu beliau menafsirkannya, atau beliau mengucapkan apa yang beliau kehendaki.
Di antaranya adalah hadis Abdullah bin Salam radiyallahu 'anhu Ia berkata:
“Aku bermimpi pada masa Rasulullah ﷺ, seolah-olah aku berada di sebuah taman yang sangat luas dan hijau. Di tengahnya ada tiang dari besi, pangkalnya tertanam di bumi, sedangkan puncaknya menjulang ke langit. Di puncaknya terdapat sebuah cincin pegangan. Dikatakan kepadaku: ‘Naiklah.’ Aku menjawab: ‘Aku tidak mampu.’ Lalu datang seseorang (pembantu) yang mengangkat pakaianku dari belakang hingga aku bisa naik, sampai aku berada di puncaknya. Aku pun memegang cincin itu, lalu dikatakan kepadaku: ‘Peganglah erat-erat.’” Ia berkata: “Aku terbangun sementara cincin itu masih terasa di tanganku. Maka aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda: ‘Taman itu adalah Islam, tiang itu adalah tiang Islam, dan cincin itu adalah al-‘urwatul wutsqa (tali yang kokoh). Engkau akan tetap berada di atas Islam hingga engkau meninggal dunia."
Suatu kali beliau ﷺ bersabda kepada para sahabat:
“Siapa di antara kalian yang bermimpi, hendaklah menceritakannya kepadaku agar aku menafsirkannya, insyaAllah.” Maka seorang laki-laki berkata:
“Wahai Rasulullah, semalam aku bermimpi ada awan yang meneteskan minyak samin dan madu. Aku melihat orang-orang menadahinya dengan tangan mereka, ada yang mendapat banyak dan ada yang sedikit. Aku juga melihat ada tali yang menghubungkan langit dan bumi, engkau memegangnya hingga engkau naik. Lalu seorang lelaki setelahmu memegangnya, ia pun naik. Kemudian seorang lelaki lain memegangnya, ia pun naik. Lalu seorang lelaki lain memegangnya, namun terputus. Kemudian tersambung lagi kepadanya, dan ia pun naik.” Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, biarkan aku menafsirkannya.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Silakan.” Maka Abu Bakar berkata: “Awan itu adalah naungan Islam. Yang menetes dari samin dan madu itu adalah Al-Qur’an, manis dan lembut. Adapun orang- orang yang menadahinya, maka itu adalah perbedaan mereka dalam mengambil Al-Qur’an, ada yang banyak dan ada yang sedikit. Tali yang menghubungkan langit dan bumi adalah kebenaran yang engkau bawa, engkau berpegang kepadanya lalu Allah mengangkatmu dengannya. Kemudian orang setelahmu memegangnya dan ia pun diangkat, lalu orang setelahnya memegangnya dan ia pun diangkat, kemudian orang setelahnya memegangnya tapi terputus, lalu tersambung kembali kepadanya, dan ia pun diangkat. Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, apakah aku benar atau salah?”
Rasulullah ﷺ bersabda: “Engkau benar dalam sebagian dan salah dalam sebagian.” Abu Bakar berkata: “Demi Allah, wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku apa yang salah.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Jangan bersumpah.”
Terlihat jelas bahwa mimpi-mimpi para sahabat ra. yang mereka ceritakan kepada Rasulullah ﷺ selalu berkaitan dengan urusan terpenting dalam hidup mereka, yaitu agama dan nabi mereka. Mereka hidup bersama agama dan dakwah, baik dalam keadaan terjaga maupun dalam mimpi. Subhanallah! Jiwa macam apakah yang senantiasa dekat dengan Rasulullah ﷺ, sehingga urusan beliau menjadi isi hati mereka siang dan malam?
Kadang Rasulullah ﷺ menceritakan pula mimpi yang beliau lihat, lalu beliau tafsirkan untuk mereka, sebagaimana dalam hadis Samurah radiyallahu 'anhu ia berkata:
“Suatu hari Rasulullah ﷺ bertanya kepada kami: ‘Apakah ada di antara kalian yang bermimpi?’ Kami menjawab: ‘Tidak ada.’ Beliau berkata: ‘Akan tetapi aku bermimpi tadi malam, ada dua orang datang kepadaku lalu membawa aku ke Tanah Suci…’” Kemudian beliau menyebutkan mimpi panjang tersebut yang di dalamnya ada gambaran keadaan orang-orang yang diazab dan sebab azab mereka, serta keadaan sebagian dari urusan akhirat.
Dalam majelis itu para sahabat juga berbincang di hadapan Rasulullah ﷺ, dan beliau ikut berbicara serta mendengarkan. Kadang mereka menyebut masa jahiliah mereka, dan kebodohan yang dahulu mereka lakukan, yang kini tampak jelas keburukannya setelah Allah memuliakan mereka dengan Islam. Maka mereka pun tertawa karenanya, sementara Rasulullah ﷺ tersenyum. Dan beliau tetap berada dalam majelis itu bersama mereka hingga matahari terbit dengan indah.
Kemudian Rasulullah ﷺ pergi menuju kamar-kamar istri beliau. Ketika masuk rumah, beliau berdoa:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan ketika masuk dan kebaikan ketika keluar. Dengan nama Allah kami masuk, dengan nama Allah kami keluar, dan kepada Allah, Tuhan kami, kami bertawakal.”
Hal pertama yang beliau lakukan ketika masuk rumah adalah bersiwak, untuk membersihkan dan menyegarkan mulut beliau yang suci. Setelah itu beliau memberi salam kepada keluarganya dengan ucapan:
“Assalamu’alaikum, bagaimana keadaan kalian wahai penghuni rumah?”
Kemudian beliau berkeliling mendatangi para istrinya, masuk ke kamar masing-masing, memberi salam kepada mereka, serta mendoakan mereka. Beliau tidak berlama-lama tinggal di dalamnya.
Terkadang beliau masuk menemui salah seorang istrinya ketika ia sedang shalat di tempatnya, lalu beliau keluar kembali sementara istrinya masih dalam keadaan yang sama. Seperti ketika beliau masuk menemui Juwayriyyah radiyallahu 'anha, beliau mendapatinya sedang berzikir di tempat shalatnya, kemudian beliau keluar, dan ia masih tetap dalam keadaan berzikir. Kadang beliau bertanya: “Apakah ada makanan di rumah?” Jika ada, maka makanan itu dihidangkan kepadanya. Biasanya makanan yang tersedia sederhana, seperti kurma, hais (campuran kurma dengan samin dan tepung), aqith (sejenis keju kering), atau minuman seperti susu dan nabidz, serta yang semisalnya. Namun jika beliau bertanya dan para istrinya menjawab: “Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki apa-apa,” maka beliau bersabda: “Kalau begitu, aku berpuasa.”

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Majelis Nabi Dhuha · Majelis pagi di masjid · 10 menit baca 

Setelah Rasulullah ﷺ selesai berkeliling menemui istri-istrinya, beliau kembali ke masjid. Ketika masuk, beliau menunaikan shalat tahiyyatul masjid di dekat sebuah tiang yang dikenal dengan Tiang Muhajirin, yang berada di tengah-tengah Rawdah yang mulia. Beliau selalu berusaha shalat di dekatnya.
Kemudian beliau duduk di bagian timur masjid, di dalam Rawdah, bersandar ke kamar Aisyah radiyallahu 'anha. Lalu para sahabat berkumpul mengelilinginya. Pertemuan ini sudah menjadi kebiasaan, sehingga siapa saja yang ingin menemui Nabi ﷺ pada waktu itu akan mendatanginya di masjid. Terkadang sahabat yang hadir sedikit, terkadang banyak, sesuai dengan waktu luang dan keadaan mereka. Jika sedikit, mereka duduk melingkar di sekeliling beliau, dan jika banyak mereka duduk membentuk dua barisan di sisi kanan dan kiri beliau, agar orang yang datang bisa langsung menemui beliau, dan yang ingin bertanya bisa lebih dekat dengannya.
Ketika duduk bersama sahabat, beliau berbicara kepada mereka. Beliau adalah manusia yang paling fasih ucapannya, paling indah tutur katanya, dan paling jelas penyampaiannya. Ucapan beliau tidak terlalu cepat, juga tidak lambat terputus-putus, melainkan jelas dan teratur. Sehingga jika ada orang yang ingin menghitung kata-katanya, niscaya bisa menghitungnya. Sebagaimana perkataan Aisyah radiyallahu 'anha:
“Rasulullah ﷺ tidak menyampaikan perkataan dengan cepat seperti kalian ini, tetapi beliau berbicara dengan ucapan yang jelas, terang, dan bisa dihafal oleh orang yang mendengarnya.” Sering kali, pembicaraan beliau berbentuk dialog yang diawali dengan pertanyaan. Kadang beliau membuka dengan pertanyaan agar para sahabat balik bertanya kepadanya, seperti sabdanya:
“Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa besar yang paling besar?”
Mereka menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, dan persaksian palsu.” Terkadang beliau bertanya untuk mengarahkan perhatian mereka kepada makna yang lebih dalam dari apa yang mereka bayangkan. Misalnya sabdanya:
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”
Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di antara kami adalah yang tidak punya uang maupun harta.”
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dalam keadaan pernah mencaci orang ini, menuduh yang itu, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul yang lain. Maka diberikanlah pahala kebaikannya kepada orang-orang itu. Jika kebaikannya habis sebelum semua tuntutan terbayar, maka dosa-dosa mereka diambil dan ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.”
Kadang beliau membangkitkan daya pikir mereka dengan pertanyaan untuk dijawab. Pernah suatu ketika didatangkan kepada beliau setangkai kurma, lalu beliau bertanya:
“Kabarkan kepadaku tentang sebuah pohon yang mirip dengan seorang muslim. Daunnya tidak pernah gugur, dan selalu berbuah setiap waktu.”
Mereka pun menyebutkan berbagai pohon gurun, sementara beliau menanggapi setiap jawaban dengan berkata: “Bukan, bukan …”
Dalam hati Abdullah bin Umar radiyallahu 'anhuma —yang ketika itu masih sangat muda—sudah terlintas bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Namun ia segan untuk mengatakannya karena di majelis tersebut ada Abu Bakar dan Umar radiyallahu 'anhum. Akhirnya Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pohon itu adalah pohon kurma.”
Kadang beliau mengulang suatu perkataan hingga tiga kali, agar lebih mudah dipahami atau untuk menunjukkan pentingnya. Bahkan kadang beliau mengulang lebih banyak lagi demi menegaskan perhatian, seperti ketika beliau menyebut dosa besar:
“Ingatlah, perkataan dusta. Ingatlah, persaksian palsu.”
Beliau terus mengulanginya hingga para sahabat berkata: “Andai saja beliau berhenti.” Terkadang Rasulullah ﷺ memulai dengan pertanyaan yang mengejutkan, lalu berakhir dengan hasil yang juga mengejutkan. Suatu kali beliau bersabda:
“Siapa di antara kalian yang pagi ini berpuasa?”
Para sahabat terkejut dengan pertanyaan itu, karena mereka tidak bersiap sebelumnya. Seandainya mereka tahu bahwa beliau akan bertanya, niscaya semuanya berpuasa. Maka mereka pun terdiam, lalu Abu Bakar menjawab: “Aku, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda lagi: “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Mereka terdiam, lalu Abu Bakar menjawab: “Aku, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda lagi: “Siapa di antara kalian hari ini mengikuti jenazah?”
Mereka terdiam, lalu Abu Bakar menjawab: Aku wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda lagi: “Siapa di antara kalian hari ini memberi makan orang miskin?” Mereka terdiam, lalu Abu Bakar menjawab: “Aku, wahai Rasulullah.”
Maka beliau ﷺ bersabda:
“Tidaklah empat perkara ini terkumpul pada seseorang dalam satu hari, kecuali ia pasti masuk surga.”
Kadang beliau menggunakan alat peraga dalam menyampaikan penjelasan. Seperti ketika beliau berbicara tentang hilangnya amanah. Beliau bersabda:
“Seseorang tidur, lalu amanah dicabut dari hatinya, dan bekasnya tinggal seperti titik hitam. Kemudian ia tidur lagi, amanah dicabut dari hatinya, hingga bekasnya tinggal seperti bisul, laksana bara api yang menggelinding mengenai kakimu hingga melepuh, membengkak namun tidak berisi apa pun.”
Kemudian beliau mengambil enam kerikil dan menggelindingkannya di atas kakinya. Kadang beliau juga menggunakan gambar penjelas. Beliau pernah membuat garis persegi di tanah, lalu membuat garis dari tengah yang keluar darinya, kemudian membuat garis-garis kecil di sisi garis tengah itu, lalu beliau bersabda:
“Ini adalah manusia. Ini adalah ajal yang mengurungnya. Ini adalah cita-citanya yang melampaui batas. Sedangkan garis-garis kecil ini adalah berbagai cobaan. Jika ia luput dari cobaan yang satu, cobaan yang lain pasti mengenainya. Jika luput darinya, cobaan yang lain akan mengenainya.”
Majelis beliau adalah majelis ilmu dan nasihat, namun bukan dengan cara ceramah satu arah, melainkan dengan metode dialog yang melibatkan sahabat dalam proses belajar, sehingga menumbuhkan kecerdasan dan perkembangan berpikir.
Yang banyak mengisi majelis itu adalah istighfar. Para sahabat sering melihat Nabi ﷺ tidak pernah lalai dari beristighfar dan bertaubat. Kadang mereka menghitung dalam satu majelis, beliau beristighfar seratus kali sebelum bangkit:
“Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Pengampun.”
Dalam majelisnya, anak-anak Madinah pun didatangkan, lalu beliau mendoakan mereka, mentahnik mereka dan memohonkan keberkahan untuk mereka.
Di antaranya adalah ketika Abu Usayd radhiyallahu 'anhu, membawa anaknya yang baru lahir, al- Mundzir, kepada Rasulullah ﷺ. Beliau meletakkan bayi itu di atas pahanya, sementara Abu Usayd duduk. Namun kemudian Nabi ﷺ sibuk dengan sesuatu di hadapannya, hingga Abu Usayd menyuruh orang untuk mengangkat bayinya dari paha Rasulullah ﷺ. Tak lama kemudian Rasulullah ﷺ tersadar dan bersabda:
“Di mana bayi itu?”
Abu Usayd menjawab: “Kami mengangkatnya, wahai Rasulullah.”
Beliau bertanya: “Apa namanya?”
Abu Usayd menjawab: “Fulan, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda: “Bukan, tetapi namanya al-Mundzir.”
Maka beliau menamakannya pada hari itu: al-Mundzir.
Di majelis beliau juga dibawa buah kurma yang baru masak. Kurma adalah buah utama, makanan pokok, dan sumber gizi penduduk Madinah. Mereka bergembira bila melihat buah pertama muncul, lalu mereka membawanya kepada Rasulullah ﷺ. Ketika menerimanya beliau berdoa:
“Ya Allah, berkahilah buah kami, berkahilah kota kami, berkahilah takaran sha‘ kami, dan berkahilah takaran mudd kami. Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu, dan nabi-Mu. Aku pun hamba-Mu dan nabi-Mu. Ia berdoa kepada-Mu untuk Mekah, dan aku berdoa kepada-Mu untuk Madinah dengan doa yang sama, bahkan lebih darinya.”
Lalu beliau memanggil anak yang paling kecil di majelisnya dan memberikannya kurma itu. Majelis beliau juga tidak kaku, tetapi penuh dengan keceriaan dan canda yang indah. Wibawa majelis Nabi ﷺ tidak menghalangi sahabat untuk bersikap alami. Suatu ketika beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki penghuni surga yang meminta izin kepada Tuhannya untuk menanam. Allah berfirman kepadanya: ‘Bukankah engkau sudah mendapatkan apa yang engkau inginkan?’ Ia menjawab: ‘Benar, wahai Rabb-ku, tetapi aku senang menanam.’ Maka ia pun menanam, dan seketika itu juga tanaman tumbuh, berbuah, dan panen hingga menjadi seperti gunung-gunung. Maka Allah berfirman: ‘Silakan wahai anak Adam, sebab engkau tidak akan pernah merasa cukup!’”
Setelah beliau selesai bercerita, seorang Arab Badui berkata: “Wahai Rasulullah, orang itu pasti seorang Muhajirin atau Anshar, sebab mereka ahli bercocok tanam. Adapun kami bukan ahli bercocok tanam.” Maka tertawalah orang-orang di majelis itu, dan Nabi ﷺ pun ikut tertawa. Nampaknya majelis ini juga menjadi tempat penyambutan para tamu dari kabilah-kabilah. Biasanya para musafir bermalam di luar Madinah, lalu masuk pada pagi hari, dan bertemu Nabi ﷺ di majelis ini.
Di antaranya adalah rombongan kabilah Mudhar. Mereka datang kepada Nabi ﷺ di pagi hari. Beliau melihat kondisi mereka yang sangat miskin, hingga wajah beliau berubah karena sedih melihat keadaan mereka. Lalu beliau berkhutbah, mengajak orang-orang bersedekah, hingga terkumpul dua tumpukan besar makanan dan pakaian.
Kemungkinan besar, majelis inilah yang pernah didatangi oleh Jibril dalam rupa seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat padanya tanda-tanda perjalanan, dan tidak seorang pun mengenalnya. Lalu ia bertanya tentang Islam, iman, ihsan, dan tanda-tanda kiamat.
Dan juga majelis inilah ketika datang Dhimam bin Tsa‘labah dari Bani Sa‘d bin Bakr. Ia menambatkan untanya di masjid, kemudian berkata kepada Nabi ﷺ: “Wahai putra Abdul Muththalib?” Beliau menjawab: “Aku telah menjawabmu.” Ia berkata: “Aku ingin bertanya kepadamu, dan aku akan keras dalam bertanya, maka janganlah engkau merasa keberatan.” Beliau bersabda: “Tanyakan apa saja yang engkau kehendaki.”
Lalu ia bertanya tentang rukun-rukun Islam, kemudian ia berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambah dan tidak akan mengurangi darinya.” Setelah ia pergi, Nabi ﷺ bersabda: “Orang ini telah memahami (agamanya). Jika ia benar dengan ucapannya, niscaya ia masuk surga.”
Para sahabat bergiliran menghadiri majelis Nabi ﷺ. Sebagaimana dalam hadis Umar, ia berkata: “Aku dan seorang tetanggaku dari kalangan Anshar tinggal di daerah tinggi Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Rasulullah ﷺ. Pada satu hari aku turun menemuinya, lalu aku sampaikan kepadanya berita pada hari itu dari wahyu dan lainnya. Dan pada hari lain ia yang turun menemuinya, lalu menyampaikan berita kepadaku sebagaimana aku menyampaikannya kepadanya."
Rasulullah ﷺ duduk di majelis ini bersama para sahabatnya seperti salah seorang dari mereka, tanpa ada tanda khusus yang membedakan beliau dari mereka. Sampai-sampai seorang pendatang baru tidak bisa mengenali beliau di antara mereka. Kadang ia bertanya: “Siapakah di antara kalian putra Abdul Muththalib?” Mereka pun hanya bisa menunjuk kepada beliau yang tampak lebih bercahaya dan berkata: “Itulah beliau, yang berkulit putih, bersandar itu.” Melihat hal itu, para sahabat pun mengusulkan agar dibuatkan tempat duduk dari tanah liat untuk beliau, agar mudah dikenali oleh orang yang datang. Beliau pun mengizinkan, dan itu terjadi pada akhir hayat beliau, pada tahun kedatangan para delegasi, yaitu tahun kesembilan hijriah.
Beliau ﷺ membagi senyum dan perhatian kepada semua sahabat yang duduk di majelisnya, hingga ketika mereka bubar, masing-masing merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling dekat dan paling istimewa di sisi beliau.
Kadang Nabi ﷺ diberi hadiah makanan ketika bersama para sahabatnya, lalu mereka makan bersama-sama. Samurah bin Jundub berkata: “Ketika kami berada di sisi Nabi ﷺ, dibawakan sebuah mangkuk berisi tsarid (roti bercampur kuah daging). Beliau pun makan, begitu pula para sahabat makan. Mereka terus bergantian memakannya hingga hampir waktu zuhur. Setiap kelompok makan lalu pergi, kemudian datang kelompok lain melanjutkannya.” Seseorang bertanya kepada beliau: “Apakah makanan itu bertambah sendiri?” Beliau bersabda: “Tidak, bukan dari bumi. Akan tetapi, bisa jadi ia ditambah dari langit.”
Suatu kali beliau ﷺ diberi hadiah seekor kambing, sementara saat itu makanan masih sangat sedikit. Maka beliau bersabda kepada keluarganya: “Siapkan kambing ini, perhatikan pula roti yang ada, lalu campurkanlah, dan hidangkan bersama.”
Beliau memiliki sebuah mangkuk besar yang disebut al-Gharra’, yang harus dibawa oleh empat orang. Ketika pagi tiba dan para sahabat telah selesai shalat dhuha, mangkuk itu dibawakan, lalu mereka berkumpul mengitarinya. Karena jumlah mereka banyak, Rasulullah ﷺ duduk berlutut. Maka seorang Arab Badui bertanya: “Apa duduk seperti ini?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menjadikan aku sebagai hamba yang mulia, dan tidak menjadikanku seorang yang sombong dan keras. Makanlah dari tepinya, dan biarkan bagian tengahnya, agar diberkahi di dalamnya.”
Kemudian beliau bersabda: “Ambillah dan makanlah! Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kalian akan dibukakan negeri Persia dan Romawi, hingga makanan melimpah, tetapi tidak lagi disebut nama Allah atasnya.”
Majelis Nabi ﷺ ini kadang berlangsung lama, kadang singkat, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Hingga apabila siang mulai meninggi, beliau bangkit. Dan tidaklah beliau bangkit dari suatu majelis kecuali mengucapkan:
“Maha suci Engkau ya Allah, wahai Tuhanku, dengan segala puji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Jarang sekali beliau beranjak dari suatu majelis tanpa mendoakan para sahabatnya dengan doa: “Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari maksiat kepada-Mu. Karuniakanlah ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami ke surga-Mu. Karuniakanlah keyakinan yang dapat meringankan bagi kami musibah-musibah dunia. Ya Allah, berilah kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau memberi kami kehidupan, dan jadikanlah ia sebagai warisan kami. Jadikanlah pembalasan kami kepada orang yang menzhalimi kami. Tolonglah kami menghadapi orang yang memusuhi kami. Jangan jadikan musibah kami dalam urusan agama kami. Jangan jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami, dan bukan pula batas pengetahuan kami. Dan jangan jadikan orang yang tidak memiliki kasih sayang terhadap kami berkuasa atas kami.” Kemudian para sahabat pun bubar, kembali ke pekerjaan mereka atau menuju rumah-rumah mereka untuk beristirahat siang (qailulah) sebelum shalat Zuhur.

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Kunjungan-Kunjungan Rasulullah ﷺ Dhuha · Keluar berkunjung · 2 menit baca 

Kadang Rasulullah ﷺ pada sebagian waktu dhuha pergi mengunjungi kerabat atau sahabat yang ingin beliau kunjungi.
Di antaranya adalah kunjungannya ke rumah Fathimah radhiyallahu ‘anha untuk menemui cucunya, Hasan bin ‘Ali radiyallahu 'anhuma. Beliau berdiri di halaman rumah dan memanggil: “Apakah si kecil ada di sini? Apakah si kecil ada di sini?” Hingga Hasan yang masih kecil keluar menyambut beliau dengan berlari, lalu Rasulullah ﷺ memeluk dan menciumnya seraya berdoa:
“Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia, dan cintailah orang yang mencintainya.”
Suatu ketika Rasulullah ﷺ datang ke rumah Fathimah radhiyallahu ‘anha dan menanyakan suaminya, ‘Ali radhiyallahu ‘anhu: “Di mana putra pamanmu?” Fathimah menjawab: “Ada sesuatu antara aku dan dia, maka ia keluar.” Lalu Rasulullah ﷺ menyuruh seseorang mencarinya, dan dikabarkan bahwa ia sedang tidur di masjid. Rasulullah ﷺ pun mendatanginya, dan ternyata selendangnya terjatuh dari tubuhnya sehingga debu menempel pada badannya. Rasulullah ﷺ lalu mengusap debu itu darinya seraya bersabda: “Bangunlah, wahai Abu Turab, bangunlah wahai Abu Turab.”
Beliau ﷺ juga mengunjungi para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Beliau mendatangi kaum muslimin yang lemah, menjenguk orang sakit di antara mereka, memenuhi undangan mereka, bahkan terkadang pergi sendirian.
Di antaranya adalah ketika beliau memenuhi undangan Malikah, nenek Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma. Ia mengundang Rasulullah ﷺ untuk makan makanan yang ia buat. Setelah makan, Rasulullah ﷺ bersabda: “Bangunlah, aku akan shalat untuk kalian.” Anas berkata: “Aku pun menghamparkan tikar kami yang sudah menghitam karena terlalu lama dipakai. Aku perciki dengan air, lalu Rasulullah ﷺ berdiri shalat di atasnya. Aku dan seorang anak yatim berdiri di belakang beliau, dan nenekku berdiri di belakang kami. Rasulullah ﷺ pun shalat dua rakaat, lalu beliau pergi.”
Terkadang beliau pergi bersama sebagian keluarganya. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ada seorang tetangga Rasulullah ﷺ yang berasal dari Persia, terkenal pandai membuat kuah yang harum baunya. Suatu hari ia membuat makanan dan mengundang Rasulullah ﷺ. Beliau pun bersabda: “Bagaimana dengan ‘Aisyah, ikut bersamaku?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Maka Rasulullah ﷺ berkata: “Kalau begitu aku juga tidak.” Lalu ia datang lagi mengundang, dan Rasulullah ﷺ mengulangi permintaannya agar ‘Aisyah ikut serta. Orang itu kembali menjawab: “Tidak.” Maka Rasulullah ﷺ berkata: “Kalau begitu aku juga tidak.” Lalu ia kembali datang untuk ketiga kalinya, maka Rasulullah ﷺ berkata: “Bagaimana dengan dia?” Kali ini orang itu menjawab: “Ya.” Maka keduanya pun bangkit dan saling mendorong dengan penuh keakraban menuju rumahnya.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu disebutkan pula bahwa seorang penjahit mengundang Rasulullah ﷺ untuk menghadiri makanan yang ia buat. Anas berkata: “Aku pergi bersama Rasulullah ﷺ. Ia menghidangkan roti dari gandum kasar dan kuah berisi labu dan daging kering.
Rasulullah ﷺ pun menyantapnya, dan aku melihat beliau sangat menyukai labu. Aku melihat beliau memungut labu dari sekitar mangkuk. Sejak melihat itu, aku pun selalu memberikan labu kepadanya dan tidak memakannya sendiri. Sejak hari itu aku pun menyukai labu.” Kadang beliau memenuhi undangan bersama para sahabatnya.

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Beliau ﷺ Berjalan di Pasar Dhuha · Di pasar Madinah · 2 menit baca 

Apabila Rasulullah ﷺ berjalan, beliau melangkah dengan tegap dan mantap, seakan-akan sedang menuruni lereng. Jika beliau menoleh, maka beliau menoleh dengan seluruh tubuhnya. Apabila beliau berjalan bersama para sahabatnya, mereka berjalan di depan dan di sekelilingnya, tidak berjalan di belakangnya. Dan tidak pernah ada dua orang yang menginjak tumit beliau. Beliau ﷺ tersenyum kepada siapa saja yang ditemuinya. Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata:
"Tidaklah Rasulullah ﷺ bertemu denganku kecuali beliau tersenyum kepadaku."
Abdullah bin al-Harits bin Jaza’ radhiyallahu ‘anhu juga berkata:
"Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum dibanding Rasulullah ﷺ." Apabila beliau melewati anak-anak kecil, beliau memberi salam kepada mereka dan mengusap wajah mereka. Jābir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu berkata:
"Suatu ketika Nabi ﷺ keluar, aku pun keluar bersamanya. Lalu sekelompok anak-anak mendatanginya. Beliau pun mengusap pipi mereka satu per satu. Ketika giliranku, beliau mengusap pipiku, dan aku merasakan sentuhan tangannya begitu sejuk dan harum, seakan- akan beliau baru saja mengeluarkannya dari kotak minyak wangi."
Suatu hari beliau melewati masjid, di mana sekelompok wanita sedang duduk, maka beliau melambaikan tangan kepada mereka sebagai tanda salam. Dan apabila beliau bertemu dengan salah seorang sahabatnya, beliau mengusapnya dan mendoakannya.
Beliau ﷺ juga mau berhenti jika ada yang menghentikan beliau di jalan. Terkadang seorang budak perempuan atau wanita menghentikan beliau, maka beliau pun berhenti dan mendengarkannya. ‘Adiy bin Hatim at-Tha’i radhiyallahu ‘anhu menceritakan pertemuan pertamanya dengan Rasulullah ﷺ:
"Ketika aku berjalan bersamanya, tiba-tiba seorang wanita bersama seorang anak laki-laki memanggil beliau: ‘Wahai Rasulullah, kami punya suatu keperluan denganmu.’ Maka beliau berdiri lama bersama mereka berdua hingga aku merasa lelah menunggu. Aku berkata dalam hati: Sungguh aku bersaksi bahwa engkau bukan dari agamaku dan bukan pula dari agama Nu‘man bin al-Mundzir. Karena jika engkau seorang raja, niscaya engkau tidak akan berdiri lama bersama wanita dan anak kecil seperti itu. Saat itu Allah menanamkan rasa cinta kepadaku terhadap beliau."
Beliau berjalan dengan apa adanya, alami, dan mengalir—jauh dari sikap kaku dan dibuat-buat. Pernah beliau melewati seorang pemuda yang sedang menyamak kulit kambing tetapi tidak pandai melakukannya. Maka beliau pun mendekat dan berkata:
"Menyingkirlah sebentar, akan aku tunjukkan kepadamu. Aku lihat engkau kurang pandai menyamaknya."
Lalu beliau memasukkan tangannya di antara kulit dan daging, menggerakkannya hingga tembus ke bagian ketiak, kemudian berkata:
"Begini caranya, wahai anak muda. Lakukanlah seperti ini ketika menyamak."
Setelah itu beliau pun melanjutkan perjalanannya.
Beliau juga pernah melewati seorang lelaki yang sedang meletakkan periuk di atas api. Beliau bertanya:
"Apakah masakanmu sudah matang?"
Lelaki itu menjawab: "Ya, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah." Maka beliau mengambil sepotong daging darinya, lalu mengunyahnya sambil berjalan.
Apabila beliau mendatangi rumah seseorang, beliau tidak berdiri tepat di depan pintu, melainkan agak ke samping kanan atau kirinya. Karena rumah-rumah saat itu kecil dan tidak memiliki tirai di pintu. Kemudian beliau mengucapkan salam:
"Assalamu’alaikum, assalamu’alaikum."

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Kunjungan Rasulullah ﷺ Bersama Para Sahabat Dhuha · Bersama para sahabat · 2 menit baca 

Di antara kunjungan beliau adalah kunjungannya kepada ‘Itbān bin Mālik radhiyallahu ‘anhu. Suatu ketika, ‘Itbān mengundang beliau untuk shalat di rumahnya. Maka beliau pun datang di waktu dhuha, bersama Abu Bakar, Umar, dan beberapa sahabatnya. ‘Itbān berkata: "Wahai Rasulullah, di manakah engkau ingin shalat di rumahku?"
Maka ia menunjukkan sebuah sudut di rumahnya. Rasulullah pun meminta agar disediakan alas tikar dan bagian ujungnya diperciki air, lalu beliau shalat bersama mereka dua rakaat. Setelah itu, ‘Itbān meminta beliau agar berkenan makan dari hidangan yang telah ia siapkan. Maka beliau duduk dan makan di rumahnya.
Beliau ﷺ selalu menghibur orang yang dikunjunginya, dan dengan akhlak mulianya beliau mampu merangkul semua kalangan, termasuk anak-anak kecil mereka.
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata:
"Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Beliau sering mendatangi kami dan bergaul bersama kami. Aku memiliki seorang adik kecil yang berusia sekitar tiga tahun. Apabila Rasulullah ﷺ mengunjungi kami, beliau sering bercanda dan bergurau dengannya. Suatu hari beliau datang, lalu mendapati adikku itu sedang bersedih. Maka beliau berkata: ‘Wahai Ummu Sulaim, mengapa aku melihat anakmu Abu Umair sedih dan murung?’ Ia menjawab: ‘Wahai Rasulullah, burung kecilnya (nughair) yang biasa menemaninya bermain telah mati.’ Maka Rasulullah ﷺ mendekati anak itu, mengusap kepalanya, seraya berkata: ‘Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan si nughair? Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan si nughair?’"
Apabila beliau mengunjungi salah seorang sahabat dan dijamu makan, beliau mendoakan mereka dengan doa kebaikan.
Beliau pernah mengunjungi Sa‘d bin ‘Ubādah radhiyallahu ‘anhu, yang menyajikan roti dan minyak. Beliau makan, lalu mendoakan:
“Semoga orang-orang yang berpuasa berbuka di rumah kalian, semoga orang-orang shalih memakan makanan kalian, dan semoga para malaikat mendoakan kalian.”
Beliau juga pernah mengunjungi Busrah bin Abī Busrah radhiyallahu ‘anhu. Tuan rumah menyajikan makanan dan semangkuk besar daging, lalu beliau memakannya. Setelah itu beliau diberi minuman, dan beliau meminumnya. Kemudian beliau berdoa:
“Ya Allah, berkahilah mereka pada rezeki yang Engkau berikan, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka.”

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Menjenguk Orang Sakit Dhuha · Menjenguk yang sakit · 1 menit baca 

Di antara kunjungan beliau ﷺ adalah kunjungan menjenguk orang sakit.
Suatu ketika, Sa‘d bin ‘Ubādah radhiyallahu ‘anhu sakit keras. Nabi ﷺ datang menjenguknya bersama Abdurrahman bin ‘Auf, Sa‘d bin Abī Waqqāsh, dan Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhum. Ketika beliau masuk, beliau mendapati Sa‘d sudah tidak sadarkan diri, sementara keluarganya mengelilinginya. Maka beliau ﷺ bertanya:
"Apakah ia sudah meninggal?"
Mereka menjawab: "Belum, wahai Rasulullah."
Lalu Nabi ﷺ menangis. Melihat tangisan beliau, orang-orang pun ikut menangis. Maka beliau bersabda:
"Tidakkah kalian mendengar! Sesungguhnya Allah tidak mengazab karena air mata yang menetes, dan tidak pula karena kesedihan hati. Tetapi Allah mengazab karena (ucapan) lisan ini – atau Dia merahmati." (sambil beliau menunjuk lisannya).
Demikian pula beliau pernah menjenguk Jābir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhumā. Jābir berkata: "Aku pernah sakit, lalu Rasulullah ﷺ datang menjengukku bersama Abu Bakar dengan berjalan kaki. Saat itu aku berada di tengah-tengah kaumku, Bani Salimah. Beliau mendapati aku dalam keadaan pingsan. Maka Rasulullah ﷺ berwudhu, lalu memercikkan air wudhunya kepadaku, hingga aku sadar kembali. Ternyata Rasulullah ﷺ sudah berada di sisiku. Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana aku harus berbuat dengan hartaku, padahal aku tidak memiliki orang tua maupun anak (yakni aku hanya meninggalkan saudara sebagai ahli waris)?’ Namun beliau tidak menjawabku hingga turunlah ayat tentang warisan (faraidh).”

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Istirahat Qailulah Dhuha tinggi · Istirahat siang di rumah · 5 menit baca 

Rasulullah ﷺ ketika masuk waktu dhuha yang tinggi, beliau pergi ke rumah istrinya yang sedang mendapat giliran hari itu. Saat memasuki rumah, hal pertama yang beliau lakukan adalah berdzikir, bersiwak, dan mengucapkan salam kepada keluarganya. Kemudian beliau menunaikan shalat dhuha empat rakaat, terkadang menambah hingga enam atau delapan rakaat.
Kadang beliau mendapati makanan, lalu memakannya jika sebelumnya belum makan di pagi hari. Pernah juga beliau ditawari makanan padahal sedang berpuasa, lalu beliau berbuka. Suatu hari, Aisyah ra. berkata kepadanya: “Wahai Rasulullah, ada hadiah yang diberikan kepada kami, atau tamu yang datang, dan aku menyisihkan sesuatu untukmu.” Beliau bertanya: “Apa itu?” Aisyah menjawab: “Hais (olahan kurma, minyak samin, dan keju).” Beliau berkata: “Bawakan.” Maka ia membawanya, lalu beliau memakannya sambil berkata: “Padahal tadi aku sedang berpuasa.”
Dalam kesempatan itu, beliau juga pernah melihat istrinya, Juwairiyah radhiyallahu 'anha sedang duduk berzikir di tempat shalatnya. Beliau masuk pada pagi hari dan ketika kembali mendapati ia masih dalam keadaan yang sama. Beliau bertanya: “Apakah engkau masih tetap pada keadaan seperti ketika aku meninggalkanmu?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Sungguh, aku telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali, yang jika ditimbang dengan semua dzikir yang engkau ucapkan sejak pagi, niscaya akan sebanding dengannya, yaitu: Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midada kalimatihi.” Inilah saat-saat khusus beliau bersama keluarganya.
Pada waktu itu, terkadang ada wanita mukminah yang datang menanyakan persoalan agama yang tidak berani mereka tanyakan di hadapan kaum laki-laki. Pertanyaan itu biasanya disampaikan di hadapan Ummul Mukminin, sehingga mereka pun meriwayatkan untuk umat fatwa-fatwa Nabi ﷺ khusus terkait urusan kaum wanita.
Di antaranya, seorang wanita Anshar datang kepada beliau di rumah Aisyah radhiyallahu 'anha, lalu bertanya tentang tata cara mandi haid. Beliau bersabda: “Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air dan daun bidara, lalu ia bersuci dan memperbagus thaharahnya, kemudian menuangkan air di kepalanya sambil menggosoknya dengan kuat hingga mencapai pangkal rambutnya. Setelah itu, ia menyiram seluruh tubuhnya, lalu mengambil sepotong kain yang diberi wewangian untuk bersuci dengannya.” Wanita itu bertanya lagi: “Bagaimana cara bersuci dengannya?” Beliau menjawab sambil menunduk malu: “Subhanallah, bersucilah dengannya!” Aisyah lalu menarik wanita itu dan menjelaskan: “Ikuti bekas darah dengan kain itu.” Rasulullah ﷺ mendengar dan tidak mengingkarinya.
Juga pernah Ummu Sulaim datang kepada beliau ketika berada di rumah Ummu Salamah radhiyallahu 'anha lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika seorang wanita bermimpi disetubuhi suaminya, apakah ia harus mandi janabah?” Ummu Salamah berkata: “Celaka engkau, wahai Ummu Sulaim, engkau mempermalukan para wanita di hadapan Rasulullah ﷺ!” Ummu Sulaim menjawab: “Sesungguhnya Allah tidak malu menyampaikan kebenaran. Jika kami bertanya kepada Nabi ﷺ tentang sesuatu yang kami tidak tahu, itu lebih baik daripada kami tetap dalam kebodohan.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ummu Salamah: “Celaka engkau, wahai Ummu Salamah, justru engkaulah yang keliru. Ya, jika seorang wanita mendapati air mani, maka ia wajib mandi.” Ummu Salamah lalu bertanya: “Apakah wanita juga memiliki mani?” Beliau menjawab: “Lalu dari mana anak bisa mirip dengannya? Sesungguhnya mereka adalah saudara kandung bagi laki-laki."
Memang, wanita-wanita Anshar memiliki keberanian dalam bertanya dan mencari kejelasan. Hingga Aisyah ra. berkata: “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu agama.”
Pada waktu itu pula, terkadang sahabat dekat beliau datang untuk suatu keperluan. Seperti ketika Rasulullah ﷺ berbaring di rumah dengan memakai kain milik Aisyah, terbuka paha atau betis beliau. Abu Bakar datang meminta izin masuk, lalu beliau izinkan dan tetap dalam keadaan itu. Abu Bakar menyampaikan hajatnya dan keluar. Lalu datang Umar, beliau juga izinkan dengan keadaan yang sama. Setelah itu datang Utsman, maka beliau duduk, merapikan pakaiannya, dan bersabda kepada Aisyah: “Rapikanlah pakaianmu.” Setelah Utsman keluar, Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, Abu Bakar masuk dan engkau tidak merapikan pakaianmu, Umar pun begitu, tapi ketika Utsman masuk engkau duduk dan merapikan pakaianmu?” Beliau menjawab: “Apakah aku tidak malu kepada seorang lelaki yang malaikat pun malu kepadanya? Utsman itu orang yang sangat pemalu. Aku khawatir jika ia masuk dan melihatku dalam keadaan itu, ia tidak dapat menyampaikan hajatnya.”
Adapun ketika beliau berdua dengan istrinya, Aisyah radhiyallahu 'anha. berkata: “Jika beliau berada di rumah bersama keluarganya, beliau adalah orang yang paling lembut, paling mulia akhlaknya. Beliau adalah manusia biasa yang suka tersenyum dan bercanda. Beliau membantu pekerjaan keluarganya; menjahit pakaiannya, memperbaiki sandalnya, memerah susunya, melayani dirinya, dan bekerja di rumah sebagaimana kalian bekerja di rumah kalian.” Ini menunjukkan keagungan akhlak beliau, meski rumahnya sangat sederhana, hanya berupa satu ruangan kecil, beliau tetap membantu pekerjaan istrinya. Itu adalah tanda kebesaran akhlak dan keteladanan yang sangat tinggi.
Kehidupan rumah tangga beliau penuh dengan cinta, kasih sayang, keakraban, dan keceriaan. Pernah Suadah datang berkunjung ke rumah Aisyah. Rasulullah ﷺ duduk di antara keduanya, satu kaki beliau di pangkuan Aisyah, satu kaki di pangkuan Saudah. Aisyah membuat makanan bubur (harirah) lalu berkata kepada Saudah: “Makanlah.” Saudah menolak. Aisyah berkata: “Kalau tidak makan, akan aku lumuri wajahmu.” Saudah tetap menolak, lalu Aisyah mengambil bubur dan melumuri wajah Saudah. Rasulullah ﷺ tertawa dan mengangkat kakinya dari pangkuan Saudah agar ia bisa membalas. Saudah lalu melumuri wajah Aisyah, dan Rasulullah ﷺ tertawa menyaksikan keduanya hingga suasana penuh keceriaan. Tiba-tiba terdengar suara Umar memanggil di masjid: “Wahai Abdullah bin Umar!” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Segeralah kalian berdua mencuci wajah kalian, aku yakin Umar akan segera masuk.” Beliau juga tidur siang (qailulah) hingga mendekati waktu Dzuhur. Biasanya qailulah dilakukan di rumah istri beliau. Beliau tidak pernah masuk ke rumah wanita lain kecuali para istri beliau, kecuali Ummu Sulaim ra., karena ia termasuk mahram beliau. Ketika ditanya, beliau menjawab: “Aku menyayanginya, karena saudaranya gugur bersamaku di medan jihad.”
Pernah juga beliau tidur di kasur Ummu Sulaim saat ia tidak ada di rumah. Suatu ketika, Nabi ﷺ sedang tidur di kasurnya di musim panas hingga keringat beliau bercucuran dan terkumpul di atas selembar kulit. Ummu Sulaim datang, lalu mengusap keringat itu dan memerasnya ke dalam botol. Ketika Nabi ﷺ terbangun, beliau bertanya: “Apa yang engkau lakukan, wahai Ummu Sulaim?” Ia menjawab: “Aku mengumpulkan keringatmu untuk kujadikan wewangian, semoga membawa berkah bagi anak-anak kami.” Beliau bersabda: “Engkau benar.” Lalu mendoakannya dengan doa yang baik.

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Perjalanan ke Quba Siang · Sabtu, berjalan ke Quba · 1 menit baca 

Rasulullah ﷺ biasa pergi pada waktu dhuha setiap hari Sabtu menuju Quba, lalu beliau shalat di Masjid Quba. Penduduk Quba, yaitu Bani ‘Auf bin al-Harits, datang kepadanya di masjid, lalu mereka memberi salam kepadanya sementara beliau sedang shalat, maka beliau pun membalas salam mereka dengan isyarat.
Apabila beliau pergi ke Quba, beliau tidur siang (qailulah) di rumah Ummu Haram binti Milhan, saudara perempuan Ummu Sulaim sekaligus istri sahabat Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu 'anhu dan ia adalah mahram beliau ﷺ.
Suatu hari beliau masuk ke rumah Ummu Haram. Ummu Haram menyuguhkan makanan kepadanya dan membersihkan (memeriksa) rambutnya. Rasulullah ﷺ pun tertidur, lalu terbangun sambil tertawa. Ummu Haram bertanya: “Apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Aku diperlihatkan sekelompok orang dari umatku yang berperang di jalan Allah, mereka mengarungi lautan seperti para raja di atas singgasana.” Ummu Haram berkata: “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku termasuk di antara mereka.” Maka Rasulullah ﷺ mendoakannya.
Kemudian beliau kembali merebahkan kepala, lalu tertidur, kemudian bangun lagi sambil tertawa. Ummu Haram bertanya: “Apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Aku diperlihatkan sekelompok orang dari umatku yang berperang di jalan Allah, sebagaimana yang aku katakan sebelumnya.” Ummu Haram berkata: “Wahai Rasulullah, doakanlah agar aku termasuk di antara mereka.” Beliau bersabda: “Engkau termasuk dari kelompok yang pertama.”
Maka di masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu. Ummu Haram ikut berlayar menyeberangi lautan. Namun ketika keluar dari kapal, ia terjatuh dari tunggangannya, lalu wafat sebagai seorang syahidah radhiyallahu 'anha.

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Amalam-Amalan Rasulullah ﷺ di Waktu Sore Zuhur · Matahari tergelincir · 3 menit baca 

Apabila matahari telah tergelincir, Bilal mengumandangkan azan untuk salat Zuhur. Rasulullah ﷺ bangun dari qailulah-nya jika beliau masih tertidur, lalu menjawab azan sebagaimana yang diucapkan oleh muazin. Setelah itu, beliau berwudu bila membutuhkan wudu, kemudian salat di rumahnya empat rakaat. Beliau bersabda:
“Itu adalah waktu dibukanya pintu-pintu langit, dan aku suka amal salihku diangkat pada waktu itu.”
Kemudian beliau menunggu waktu salat di rumah. Terkadang bersama beliau ada cucunya, Hasan dan Husain — putra Fathimah — atau Umamah binti Zainab. Beliau bermain dengan mereka hingga Bilal datang memberi tahu bahwa waktu salat telah tiba, maka beliau pun keluar. Kadang kala beliau mencium salah seorang istrinya sebelum berangkat ke masjid. Apabila beliau keluar, Bilal segera mengiqamahkan salat, dan para sahabat berdiri begitu melihat Rasulullah ﷺ.
Seringkali beliau keluar dengan menggendong Hasan atau Husain, atau menggendong Umamah di pundaknya. Terkadang beliau meletakkan anak itu di sisinya lalu salat, dan jika sedang rukuk beliau menurunkannya, lalu menggendongnya kembali ketika berdiri.
Suatu ketika, beliau salat sambil menggendong cucunya. Saat sujud, beliau memanjangkan sujudnya. Seorang sahabat, Syaddad bin al-Had, mengangkat kepala dan melihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah ﷺ. Setelah selesai salat, para sahabat bertanya sebab sujud yang panjang itu. Beliau menjawab:
“Bukan terjadi sesuatu, bukan pula ada wahyu turun. Akan tetapi, anakku menaiki punggungku, maka aku tidak ingin menyegerakannya sampai ia puas dengan kebutuhannya.”
Rasulullah ﷺ biasa menunaikan Zuhur di awal waktunya, membaca sekitar tiga puluh ayat pada dua rakaat pertama. Kadang beliau memperpanjang salatnya, sampai-sampai seseorang keluar ke Baqi‘ untuk keperluan, lalu kembali setelah berwudu, sementara Rasulullah ﷺ masih berada di rakaat pertama.
Beliau membacakan ayat dengan suara lirih, sehingga para sahabat hanya mengetahui bacaannya dari gerakan jenggot beliau, meskipun terkadang mereka mendengar satu atau dua ayat.
Setelah salat, beliau menoleh kepada para sahabat. Jika ada suatu peristiwa penting, beliau langsung berkhutbah setelah Zuhur, karena pada waktu itu manusia sedang berkumpul setelah qailulah, dan hati mereka segar sehingga siap menerima nasihat.
Contohnya, khutbah beliau saat menerima delegasi dari Mesir yang sedang kelaparan. Beliau mengingatkan tentang takwa, lalu mendorong mereka untuk bersedekah, bahkan dengan separuh kurma.
Contoh lainnya, ketika seorang amil membawa hasil pungutan zakat dan berkata: “Ini untuk kalian, dan ini hadiah untukku.” Rasulullah ﷺ berkhutbah menegaskan bahwa hadiah semacam itu tidak halal bagi pejabat, lalu beliau bersumpah bahwa siapa pun yang mengambilnya akan datang pada hari kiamat memikul hasil itu di hadapan Allah.
Beliau juga pernah berkhutbah setelah Zuhur ketika Ma‘iz dirajam karena zina, mengingatkan agar tidak ada yang mengkhianati keluarga kaum muslimin saat mereka berjihad.
Khutbah setelah Zuhur ini biasanya untuk peristiwa darurat yang tidak dapat ditunda hingga Jumat.
Kemudian beliau kembali ke rumah dan menunaikan salat sunnah rawatib Zuhur dua rakaat, lalu keluar lagi menemui para sahabat, bahkan terkadang duduk bersama mereka hingga Asar. Kadang beliau menggunakan waktu itu untuk menyelesaikan urusan umat, seperti ketika mendamaikan perselisihan Bani ‘Amr bin ‘Auf di Quba. Beliau berangkat setelah Zuhur bersama sahabat, sementara salat Asar diimami Abu Bakar hingga Rasulullah ﷺ datang dan mengambil alih imam.
Termasuk pula ketika beliau mendatangi putri-putri Sa‘d bin ar-Rabi‘ untuk membagikan warisan ayah mereka. Rasulullah ﷺ makan bersama mereka, lalu salat Zuhur, dan setelah selesai melanjutkan pembagian. Beliau pun kembali makan bersama mereka dari sisa hidangan, kemudian salat Asar tanpa memperbarui wudu, sebagaimana para sahabat yang bersamanya.

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Shalat Ashar Asar · Sore bersama keluarga · 5 menit baca 

Apabila azan Asar telah dikumandangkan, Rasulullah ﷺ menunggu hingga manusia berkumpul. Beliau menganjurkan salat empat rakaat sebelum Asar, seraya bersabda:
“Semoga Allah merahmati seseorang yang salat empat rakaat sebelum Asar.”
Apabila mereka telah berkumpul, beliau keluar lalu menunaikan salat Asar. Rasulullah ﷺ selalu menunaikannya di awal waktu, ketika matahari masih terang. Anas r.a. berkata:
“Tidak ada seorang pun yang lebih bersegera menunaikan salat Asar dibanding Rasulullah ﷺ.” Beliau membaca pada salat Asar setengah dari panjang bacaan salat Zuhur.
Setelah selesai salat, beliau menoleh kepada para sahabat. Jika ada hal penting yang ingin beliau sampaikan, maka beliau menyampaikannya. Suatu ketika setelah salat Asar, beliau bersabda:
“Aku tidak tahu, apakah aku akan memberitahu kalian sesuatu ataukah aku diam saja?” Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah, jika itu kebaikan, maka kabarkanlah kepada kami. Jika bukan, maka Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau pun bersabda:
“Tidaklah seorang muslim berwudu, lalu menyempurnakan wudunya sebagaimana yang diwajibkan, kemudian menunaikan salat lima waktu, melainkan salat-salat itu akan menghapus dosa-dosa di antara waktu-waktunya.”
Suatu ketika beliau juga bersabda setelah salat Asar:
“Tidaklah seorang di antara kalian berwudu, lalu menyempurnakan wudunya, kemudian mengucapkan: Asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga, dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki. Dan tidaklah seorang muslim berwudu, lalu menyempurnakan wudunya, kemudian melaksanakan dua rakaat salat dengan khusyuk hati dan wajahnya menghadap kepada Allah, melainkan surga pasti menjadi miliknya.”
Namun, nasihat beliau setelah salat Asar tidak sebanyak setelah Zuhur, karena kondisi manusia biasanya sudah mulai letih, dan mereka perlu pulang untuk menyelesaikan pekerjaan atau menyiapkan makan malam.
Apabila Rasulullah ﷺ selesai dari salat Asar, beliau masuk menemui istri-istrinya, lalu berkeliling kepada mereka semua, mendekati masing-masing dalam majelisnya, mencium dan menyentuh sebatas bukan jima‘, hingga akhirnya beliau bermalam di rumah istri yang mendapat giliran pada hari itu.
Terkadang para istri beliau berkumpul di rumah salah satu dari mereka, khususnya pada hari- hari yang siangnya singkat, sehingga waktu setelah Asar tidak cukup untuk berkeliling kepada semuanya.
Di antara kejadian itu adalah ketika mereka berkumpul di rumah ‘Aisyah r.a., lalu datang Zainab r.a. Ketika Rasulullah ﷺ masuk, beliau mengulurkan tangannya kepadanya. Maka ‘Aisyah berkata: “Itu Zainab!” Rasulullah ﷺ pun menahan tangannya. Keduanya kemudian beradu kata hingga suara mereka meninggi. Salat pun telah didirikan, dan Abu Bakar lewat, lalu mendengar suara keduanya. Ia berkata: “Keluarlah, wahai Rasulullah, untuk salat, dan taburkanlah tanah di mulut mereka berdua.” Maka Rasulullah ﷺ keluar. Lalu ‘Aisyah berkata: “Sekarang Rasulullah akan selesai dari salatnya, kemudian Abu Bakar akan datang, dan dia akan melakukan sesuatu terhadapku.” Benar saja, setelah Rasulullah ﷺ selesai salat, Abu Bakar datang, menegur ‘Aisyah dengan keras seraya berkata: “Apakah engkau berbuat seperti ini?”
Rasulullah ﷺ juga apabila telah masuk ke rumahnya setelah salat Asar, beliau salat dua rakaat. Meskipun Rasulullah ﷺ melarang salat setelah Asar, namun ada sebab khusus beliau tetap melakukannya. Yaitu ketika delegasi dari Abdul Qais datang membawa Islam dari kaum mereka. Mereka menyibukkan beliau sehingga tidak sempat menunaikan dua rakaat sunnah setelah Zuhur. Karena itu beliau mengqadha dua rakaat tersebut setelah Asar, lalu menetapkannya. Jika Rasulullah ﷺ telah menunaikan suatu salat, beliau akan menjaganya terus-menerus. Hingga Aisyah r.a. berkata:
“Demi Allah yang telah mewafatkan beliau, beliau tidak pernah meninggalkan dua rakaat itu (yakni setelah Asar) hingga berjumpa dengan Allah ‘azza wa jalla.”
Biasanya, beliau melewati waktu setelah Asar di rumah bersama istri-istrinya.
Sebagaimana dalam majelisnya bersama istri-istri ada kehangatan rumah tangga, begitu pula berlangsung percakapan ilmiah, tanya jawab, dan diskusi. Rasulullah ﷺ menerimanya dengan lapang dada dan akhlak yang mulia.
Di antaranya, Aisyah r.a. pernah bertanya tentang pengalaman terberat yang beliau alami dalam dakwah dan perjuangannya. Ia berkata:
“Wahai Rasulullah, apakah ada hari yang lebih berat bagimu daripada hari Uhud?” Beliau menjawab:
“Aku telah mengalami banyak penderitaan dari kaummu, dan yang paling berat bagiku adalah pada hari Aqabah. Aku menawarkan diriku kepada Ibn ‘Abd Yalail bin ‘Abd Kulaal, namun dia tidak memenuhi apa yang kuinginkan. Aku pun pergi dengan penuh kesedihan hingga sampai di Qarn ats-Tsa‘alib. Tiba-tiba aku mendongak ke langit, ternyata ada awan menaungiku. Aku melihat di dalamnya ada Jibril. Ia memanggilku dan berkata: ‘Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Allah telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung, untuk engkau perintahkan sesukamu terhadap mereka.’ Lalu malaikat penjaga gunung memanggilku, memberi salam kepadaku, dan berkata: ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu. Aku adalah malaikat penjaga gunung. Tuhanku mengutusku kepadamu agar engkau memerintahku sesuai kehendakmu. Jika engkau mau, aku timpakan kedua gunung besar (Akhsyabain) itu atas mereka.’”
Namun Rasulullah ﷺ menjawab:
“Aku justru berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka generasi yang akan menyembah Allah semata, dan tidak menyekutukan-Nya sedikit pun.”
Dalam kesempatan lain, beliau bersabda kepada istrinya Aisyah r.a.:
"Barang siapa dihisab pada hari kiamat, pasti akan diazab.”
Aisyah pun bertanya dengan penuh keingintahuan:
“Bukankah Allah berfirman: ‘Maka dia akan diperhitungkan dengan perhitungan yang mudah.’ (QS. Al-Insyiqaq: 8).”
Beliau menjawab:
"Itu bukanlah hisab yang dimaksud, melainkan sekadar ditampakkan amalnya (al-‘ardh). Adapun siapa saja yang benar-benar dihisab dengan teliti, maka ia pasti diazab.”
Kepada istrinya Hafshah r.a., beliau pernah bersabda:
“Sesungguhnya aku berharap – insya Allah – tidak seorang pun yang ikut perang Badar dan Hudaibiyah akan masuk neraka.”
Hafshah bertanya:
“Bukankah Allah berfirman: ‘Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan pasti akan mendatanginya (neraka). Hal itu merupakan ketetapan dari Tuhanmu yang sudah pasti terlaksana.’ (QS. Maryam: 71).”
Beliau menjawab:
“Tidakkah engkau mendengar firman-Nya: ‘Kemudian Kami selamatkan orang-orang yang bertakwa, dan Kami biarkan orang-orang zalim di dalamnya dalam keadaan berlutut.’ (QS. Maryam: 72).”
Dialog-dialog seperti ini tidak akan terjadi kecuali karena Rasulullah ﷺ selalu menumbuhkan kesadaran berpikir, membuka ruang diskusi, dan menjadikan tanya jawab sebagai jalan untuk menumbuhkan keyakinan yang kokoh.
Kadang pula, setelah Asar Rasulullah ﷺ menerima undangan dari sahabatnya untuk menghadiri acara mereka. Suatu ketika, seorang dari Bani Salimah berkata:
“Wahai Rasulullah, kami ingin menyembelih unta kami, dan kami ingin engkau hadir.” Acara semacam ini jarang, karena daging sangat sedikit di masa itu. Rasulullah ﷺ menjawab: “Baiklah.”
Beliau pun berangkat bersama beberapa sahabat. Mereka mendapati unta itu belum disembelih, lalu disembelihlah unta tersebut, dipotong, lalu dimasak. Mereka pun makan bersama sebelum matahari terbenam.

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Setelah Maghrib Magrib · Makan malam di rumah · 5 menit baca 

Apabila adzan Maghrib dikumandangkan, beliau ﷺ tidak berlama-lama, segera keluar untuk shalat. Ketika keluar, beliau mendapati para sahabat sudah bergegas menuju tiang-tiang masjid untuk shalat dua rakaat sebelum Maghrib. Beliau menganjurkan shalat sunnah ini dengan sabdanya:
“Shalatlah sebelum Maghrib, shalatlah sebelum Maghrib.” Kemudian pada yang ketiga beliau bersabda: “Bagi siapa yang mau.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dua rakaat ini ringan, sebab jarak antara adzan dan iqamah Maghrib sangat singkat.
Jika beliau keluar, iqamah segera ditegakkan lalu shalat Maghrib. Nabi ﷺ biasa melaksanakan Maghrib pada awal waktunya, dan selesai sebelum gelap. Seorang sahabat mengatakan, “Selesai shalat, seseorang masih bisa melihat tempat jatuhnya anak panah jika dilempar,” karena cahaya masih ada.
Biasanya shalat beliau ringan bacaannya, meski kadang membaca surat panjang, seperti al-A‘rāf, ath-Thūr, atau al-Mursalāt.
Beliau tidak banyak berbincang setelah Maghrib sebagaimana setelah shalat lainnya, karena memberi kesempatan kaum muslimin pulang untuk makan malam dan beristirahat.
Setelah itu, Nabi ﷺ pulang ke rumah dan shalat dua rakaat sunnah Maghrib, kemudian makan malam. Waktu makan malam ini biasanya setelah Maghrib, meskipun jika beliau dalam keadaan puasa, makanan disiapkan sebelum shalat Maghrib. Karena itu beliau bersabda:
“Apabila makan malam sudah dihidangkan, dahulukanlah ia sebelum shalat Maghrib, dan jangan tergesa-gesa meninggalkan makan malam kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga menganjurkan sahabat-sahabatnya untuk berbagi makanan dengan fakir miskin. Sabdanya:
“Barangsiapa memiliki makanan untuk dua orang, hendaknya ia mengajak yang ketiga; barangsiapa memiliki makanan untuk tiga orang, hendaknya ia mengajak yang keempat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kadang beliau mengajak sepuluh orang sahabat ke rumahnya untuk makan bersama, bila ada makanan yang cukup. Namun tak jarang beliau pulang, lalu mendapati tidak ada makanan kecuali kurma dan air. Bahkan terkadang berhari-hari tidak ada makanan di rumah beliau yang bisa dimakan manusia.
Makanan beliau disajikan di atas sufrah (alas makanan di tanah), dan beliau tidak pernah makan di atas meja tinggi.
Ketika hendak makan, beliau selalu mengucapkan “Bismillah”, makan dari arah yang terdekat darinya, tidak mengambil makanan dari seluruh sisi, dan makan dengan tiga jari. Beliau mengajarkan agar makan dari tepi piring, bukan dari bagian tengah.
Beliau tidak pernah bersikap berlebihan dalam makanan. Jika ada, beliau makan; jika tidak, beliau tidak mencela. Beliau pernah ditawari cuka dan bersabda:
“Sebaik-baik lauk adalah cuka.”
Jika makan bersama, beliau tidak melewatkan kesempatan untuk mendidik dan mengajarkan adab. Seperti ketika Umar bin Abu Salamah (anak tiri Nabi ﷺ ) masih kecil, makan dengan tangannya ke segala arah. Maka Nabi ﷺ menasihatinya:
“Wahai anak kecil, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat denganmu.” Umar berkata: “Sejak itu, begitulah caraku makan.”
Beliau pun makan bagian dzira‘ (lengan kambing), yang merupakan bagian daging kesukaannya. Setelah selesai makan, beliau mengucapkan doa:
“Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik, penuh berkah. Segala puji bagi Allah yang telah mencukupi kami, memberi kami minum, tidak menjadikan kami tercukupi selain-Nya, dan tidak menjadikan kami tertolak. Wahai Tuhan kami, Engkaulah yang memberi makan, memberi minum, mencukupi, memberi harta, memberi petunjuk, dan menghidupkan kami. Maka segala puji hanya untuk-Mu atas apa yang Engkau berikan.”
Beliau mencuci mulut setelah makan, dan jika minum susu, beliau juga berkumur, seraya bersabda: “Sesungguhnya susu itu berlemak.”
Kadang beliau minum nabidz (air rendaman kurma) yang dibuat sejak pagi untuk diminum di malam hari, atau dibuat malam untuk diminum pagi.
Bersama istrinya, beliau sangat lembut. Nabi ﷺ bersabda:
“Bahkan sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu adalah sedekah.”
Aisyah menceritakan: “Rasulullah ﷺ pernah memintaku makan bersamanya padahal aku sedang haid. Beliau mengambil tulang yang masih ada dagingnya lalu memberikannya padaku, aku menggigitnya kemudian memberikannya kembali. Beliau pun menggigit dari bekas gigitan mulutku. Jika aku minum, beliau mengambil gelas dan meletakkan mulutnya di tempat aku minum, lalu beliau minum.”
MasyaAllah, betapa indah kasih sayang beliau ﷺ terhadap keluarganya. Bahkan momen makan bersama menjadi sarana menumbuhkan cinta dan kelembutan, selain menjadi santapan jasmani.
Setelah makan, beliau menjilat jari-jarinya dan menganjurkan untuk menjilat piring, seraya bersabda:
“Kalian tidak tahu di bagian mana dari makanan itu terdapat keberkahan.”
Apabila selesai makan, Rasulullah ﷺ membaca doa:
“Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah. Segala puji bagi Allah yang telah mencukupi kami dan memberi kami minum, (Dialah) yang tidak membuat kami tercukupi selain-Nya, tidak menjadikan kami tertolak, tidak pula ditinggalkan, dan kami tidak bisa merasa cukup tanpa-Nya. Wahai Tuhan kami, Engkau telah memberi makan, memberi minum, mencukupkan, memberi kekayaan, memberi petunjuk, dan menghidupkan kami. Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji atas apa yang Engkau berikan.”
Setelah makan, beliau ﷺ membilas mulutnya. Jika beliau minum susu, beliau pun membilas mulutnya, seraya bersabda: “Sesungguhnya susu itu berlemak.”
Ketika makan malam, beliau minum nabidz (rendaman kurma dalam air) yang dibuat sejak pagi. Begitu pula jika makan siang, beliau minum nabidz yang dibuat pada malam sebelumnya. Jika makan bersama istrinya, beliau selalu menghiburnya dan menumbuhkan rasa cinta. Beliau bersabda:
“Bahkan sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu adalah sedekah.”
Aisyah menceritakan: “Rasulullah ﷺ pernah memanggilku untuk makan bersamanya padahal aku sedang haid. Beliau mengambil tulang (yang masih ada sedikit dagingnya) lalu memintaku untuk menggigitnya. Aku pun menggigitnya, lalu meletakkannya. Beliau mengambil tulang itu dan menggigit pada bekas gigitan mulutku. Beliau juga meminta minuman lalu memberikannya kepadaku sebelum beliau minum. Aku pun meminumnya, lalu meletakkannya. Beliau mengambilnya dan minum pada bekas mulutku di gelas itu.” Subhanallah… betapa banyak pesan cinta yang lembut dan harum sampai ke hati seorang istri dari suami yang penuh kasih sayang. Dengan suasana indah ini, makan bukan hanya menjadi santapan tubuh, melainkan juga santapan hati dan jiwa dengan cinta dan kelembutan.

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Shalat Isya Isya · Salat terakhir hari itu · 2 menit baca 

Rasulullah ﷺ biasa tetap berada di rumahnya hingga terdengar adzan Isya. Beliau tidak terburu- buru melaksanakan shalat Isya, melainkan menunggu keadaan jamaah. Jika beliau melihat mereka sudah berkumpul, beliau segera melaksanakannya. Namun jika mereka terlambat hadir, beliau pun menundanya. Rasulullah ﷺ sebenarnya lebih menyukai untuk mengakhirkan shalat Isya, hanya saja beliau khawatir memberatkan umatnya.
Suatu kali beliau pernah menunda shalat Isya hingga Umar datang lalu memanggilnya: “Wahai Rasulullah, para wanita dan anak-anak sudah tidur.” Maka keluarlah Rasulullah ﷺ dalam keadaan air menetes dari kepalanya seraya mengusap sisi kepalanya, lalu bersabda: “Inilah waktunya. Kalau saja tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka shalat pada waktu ini.”
Beliau ﷺ adalah orang yang paling ringan shalatnya, namun paling sempurna pelaksanaannya. Anas berkata: “Aku tidak pernah shalat di belakang imam yang lebih ringan sekaligus lebih sempurna shalatnya dibanding Rasulullah ﷺ.”
Apabila beliau mendengar tangisan anak kecil yang sedang bersama ibunya di shalat berjamaah, beliau membaca surat yang pendek agar tidak menyulitkan sang ibu. Beliau ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku masuk ke dalam shalat dengan niat untuk memanjangkannya. Namun aku mendengar tangisan anak kecil, maka aku percepat shalatku, karena aku tahu betapa beratnya hati seorang ibu mendengar tangisan anaknya.”
Jika selesai shalat Isya, Rasulullah ﷺ kadang berbincang dengan para sahabat apabila ada perkara penting yang ingin beliau sampaikan.
Di antaranya, pada suatu malam di akhir hayatnya, beliau shalat Isya kemudian bersabda: “Tahukah kalian, pada malam ini, tepat seratus tahun kemudian, tidak akan ada seorang pun yang masih hidup di muka bumi ini.”
Pada kesempatan lain, beliau menunda shalat Isya, lalu shalat bersama para sahabat dan berkhutbah kepada mereka: “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang telah shalat lalu tidur. Sedangkan kalian, selama menunggu shalat, maka kalian tetap dalam keadaan shalat.” Pernah pula beliau menunda shalat Isya hingga larut malam, lalu keluar dan shalat bersama mereka. Setelah selesai, beliau bersabda: “Tetaplah tenang, bergembiralah! Sesungguhnya ini adalah nikmat Allah kepada kalian. Tidak ada seorang pun di muka bumi yang shalat pada waktu ini selain kalian.” Maka para sahabat pun kembali ke rumah masing-masing dengan gembira atas kabar gembira dari Rasulullah ﷺ Akan tetapi, pembicaraan beliau setelah shalat Isya sangat jarang dan singkat, karena manusia sudah lelah dan butuh istirahat. Karena itu, beliau tidak menyukai banyak berbicara setelah Isya Beliau ﷺ juga biasa menunggu di tempat shalatnya setelah salam, tidak langsung berdiri, hingga para wanita selesai meninggalkan masjid dan masuk ke rumah mereka, baru kemudian Rasulullah ﷺ bangkit kemudian disusul oleh kaum laki-laki.

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Malam-Malam Rasulullah ﷺ Awal malam · Bersama keluarga dan sahabat · 6 menit baca 

Kemudian beliau kembali ke rumahnya dan shalat dua rakaat sunnah rawatib setelah isya (205). Setelah itu beliau duduk sejenak bersama keluarganya, berbincang untuk menghibur mereka, menemaninya, dan bercengkerama bersama sebelum tidur. Kadang beliau juga pergi bercengkerama di rumah sebagian sahabatnya. Beliau biasa menghabiskan sebagian malam bersama kaum Anshar, atau bersama Abu Bakar dan Umar di rumah Abu Bakar, membicarakan urusan kaum muslimin. Ketika beliau keluar, keduanya ikut berjalan bersama beliau, menikmati kebersamaan hingga masuk ke masjid bersama Rasulullah ﷺ.
Terkadang, dalam perjalanan, beliau melewati salah seorang sahabat yang memiliki suara indah ketika membaca Al-Qur’an, maka beliau berhenti sejenak untuk mendengarkan bacaannya. Seperti suatu malam ketika beliau melewati Abu Musa al-Asy‘ari ra., lalu berhenti untuk mendengarkan bacaannya. Ketika pagi tiba, beliau berkata kepadanya:
“Wahai Abu Musa, seandainya engkau melihatku semalam saat aku mendengarkan bacaanmu. Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling dari seruling keluarga Dawud.” Suatu malam beliau masuk ke masjid dan mendapati Abdullah bin Mas‘ud ra. sedang shalat, melantunkan surat An-Nisa dengan tartil. Rasulullah ﷺ berdiri mendengarkan bacaannya, lalu berkata kepada Abu Bakar dan Umar:
“Barangsiapa ingin membaca Al-Qur’an segar sebagaimana diturunkan, maka bacalah dengan bacaan Ibn Umm ‘Abd (yaitu Ibnu Mas‘ud).”
Apabila beliau masuk ke masjid, beliau mengucapkan salam dengan suara yang terdengar oleh yang terjaga, namun tidak membangunkan yang tidur; sebab masjid saat itu tidak pernah sepi dari orang-orang miskin muslim yang tidur di dalamnya. Setelah itu beliau shalat di masjid sebelum masuk ke rumahnya.
Jika beliau masuk rumah dan hendak tidur, beliau melepaskan sebagian pakaiannya. Beliau mengambil sepotong kain yang diletakkan di dekat kepala tempat tidurnya, lalu mengikatkannya sebagai sarung. Dua pakaian beliau digantung, kemudian beliau masuk ke dalam selimut bersama istrinya. Tempat tidur beliau terbuat dari kulit berisi serabut kurma, dan bantalnya pun dari kulit berisi serabut kurma, yang dijadikan sandaran oleh beliau dan istrinya. Jika beliau hendak tidur, beliau meletakkan siwak di dekat kepalanya untuk bersiwak ketika bangun. Beliau tidak pernah bangun, baik di malam atau siang hari, kecuali memulai dengan bersiwak.
Apabila beliau bersiwak, beliau memberikan siwaknya kepada Aisyah ra. agar dicuci. Ia pun mendahuluinya dengan bersiwak terlebih dahulu, untuk mendapatkan keberkahan sisa ludah Rasulullah ﷺ, lalu mencucinya dan memberikannya kembali kepada beliau.
Maka siwak beliau selalu dalam keadaan bersih dan dekat dengannya. Beliau sangat memperhatikan kebersihan mulutnya dengan siwak hingga dikhawatirkan gigi beliau akan goyah karena seringnya beliau menggosok gigi dengan siwak.
Seakan-akan semua itu dilakukan agar mulut beliau tetap harum, karena mulut itulah yang digunakan untuk bermunajat kepada malaikat Rabb-nya. Beliau juga menjauhi sayuran dan tumbuhan yang berbau menyengat, seraya bersabda:
“Bukanlah (makanan itu) haram, tetapi aku merasa malu kepada malaikat Allah, sesungguhnya aku bermunajat kepada (malaikat) yang kalian tidak bermunajat kepadanya.”
Karena itu, beliau sangat menjaga siwak. Setiap kali bangun tidur beliau memulai dengan siwak, dan ketika hendak tidur, beliau mendekatkannya di sisi kepalanya.
Apabila beliau berbaring di tempat tidur, beliau berdoa:
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, mencukupi dan melindungi kami. Betapa banyak orang yang tidak memiliki yang mencukupi dan tidak pula memiliki tempat berlindung. Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan nikmat kepadaku dan memberiku keutamaan. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku dengan limpah kebaikan. Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan. Ya Allah, Tuhan segala sesuatu, Pemilik segala sesuatu, bagi- Mu segala sesuatu. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka.”
Kemudian beliau mengumpulkan kedua telapak tangan yang penuh berkah, meniupkan sedikit padanya, lalu membaca: Qul huwallahu ahad [Al-Ikhlas: 1], Qul a‘ūdzu birabbil-falaq [Al-Falaq: 1], dan Qul a‘ūdzu birabbin-nās [An-Nās: 1]. Setelah itu, beliau mengusap dengan kedua tangannya kepala, wajah, dan bagian depan tubuhnya sebanyak tiga kali.
Jika beliau hendak tidur, beliau berbaring di sisi kanan dan meletakkan tangannya di bawah pipinya, lalu berdoa:
“Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati. Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.”
Beliau ﷺ juga memiliki doa-doa lain yang dibaca ketika hendak tidur, di antaranya: “Ya Allah, Rabb langit, Rabb bumi, Rabb ‘Arsy yang agung. Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Yang membelah biji dan bijan. Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala yang memiliki kejahatan, Engkau yang memegang ubun- ubunnya. Ya Allah, Engkau yang awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkau yang akhir, tidak ada sesuatu setelah-Mu. Engkau yang zhahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu. Engkau yang batin, tidak ada sesuatu di bawah-Mu. Tunaikanlah hutang kami, cukupkanlah kami dari kefakiran.”
“Dengan nama Allah aku letakkan lambungku. Ya Allah, ampunilah dosaku, jauhkanlah syetan dariku, bebaskan aku dari belenggu (dosa), beratkan timbangan amal kebaikanku, dan masukkan aku ke dalam golongan yang mulia di sisi-Mu.”
“Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu. Aku hadapkan wajahku kepada-Mu. Aku serahkan urusanku kepada-Mu. Aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena harap dan takut hanya kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada tempat keselamatan dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus.”
Kadang beliau membaca beberapa surat Al-Qur’an sebelum tidur, seperti Alif Lām Mīm Tanzīl as -Sajdah, Hal atā ‘ala-l-insān (Al-Insan), atau kadang Az-Zumar dan Al-Isra.
Setelah itu, beliau bercengkerama dengan istrinya sejenak. Bayangkanlah bisikan kasih sayang antara seorang suami yang penuh cinta dengan istrinya yang penuh rindu, di keheningan malam dan ketenangan kota Madinah yang indah. Itu adalah anugerah jiwa yang melimpahkan kebahagiaan dan keceriaan, sekaligus memberikan kedalaman emosional dalam hubungan suami-istri.
Setelah perbincangan mesra itu, jika beliau memiliki kebutuhan sebagai seorang suami, maka beliau menunaikannya bersama istrinya. Setelah selesai, istrinya memberikan kain untuk mengusap bekas junub, lalu ia pun melakukan hal yang sama.
Kadang beliau bertepatan dengan masa haid istrinya. Beliau tidak memutus kebersamaan mesra, tetapi tetap bermesraan tanpa jima‘. Beliau memerintahkan istrinya untuk mengenakan kain penutup, lalu beliau melakukan apa yang biasa dilakukan suami kepada istrinya selain jima‘. Hal ini menjadi tanda bahwa kerinduan kepada pasangan tetap ada, dan bahwa kondisi alami tersebut tidak memutus komunikasi kasih sayang yang indah.
Di antara kisahnya adalah dari Ummu Salamah ra., ia berkata:
“Aku pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam satu selimut, lalu aku mengalami haid. Aku pun keluar dari selimut itu. Rasulullah ﷺ bertanya: ‘Apakah engkau haid?’ Aku menjawab: ‘Aku mengalami apa yang biasa dialami wanita.’ Beliau bersabda: ‘Itu adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan bagi putri-putri Adam.’ Aku pun keluar, membersihkan diriku, lalu kembali. Rasulullah ﷺ berkata: ‘Kemarilah, masuklah lagi bersamaku ke dalam selimut.’”
Beliau mandi junub sebelum tidur, namun kadang hanya berwudhu kemudian tidur, dan mandi ketika bangun. Terkadang beliau mandi junub bersama istrinya dalam satu wadah, tangan keduanya bergantian mengambil air. Istrinya berkata: “Biarkan aku (mengambil air).” Beliau menjawab: “Biarkan aku (mengambil air).”. Itu adalah bentuk keakraban dan kelanjutan senda gurau yang indah antara suami-istri.
Kemudian beliau tidur. Apabila tertidur lelap, terdengar suara napas beliau (mendengkur pelan). Jika beliau berbalik di tempat tidurnya pada malam hari, beliau membaca:
“Lā ilāha illallāh, al-wāhid al-qahhār, rabbus-samāwāti wal-ardhi wa mā bainahumā, al-‘azīzul- ghaffār.”
(Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, Rabb langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun).
Dan beliau tidak pernah berbalik badan di malam hari kecuali menggosok giginya dengan siwak, lalu kembali tidur hingga pertengahan malam.
Tampaknya, inilah masa tidur terpanjang Rasulullah ﷺ.

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Malam Qiyamul Lail Tengah malam · Qiyamul lail · 8 menit baca 

Ketika malam telah sampai di pertengahannya, Rasulullah ﷺ bangun dari tidurnya, duduk sambil mengusap rasa kantuk dari wajahnya. Beliau mengambil siwak lalu menggosokkannya pada mulut beliau yang suci dan penuh berkah. Kemudian beliau mengangkat pandangannya ke langit, merenungi dengan penuh kesungguhan di tengah keheningan malam tentang kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya, sambil membaca firman Allah Ta‘ala:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka...’” (hingga sepuluh ayat terakhir dari surah Āli ‘Imrān: 190–200).
Kemudian beliau menuju wadah air yang digantung, melepas ikatannya, menuangkan air ke dalam bejana kecil, lalu berwudu dengan wudu yang sederhana dan sempurna. Setelah itu beliau mengenakan izar (sarung) dan rida’ (selendang), serta menanggalkan kain yang sebelumnya dipakai untuk tidur, lalu memulai salat malamnya.
Terkadang, sebelum memulai salat tahajjud, beliau terlebih dahulu berzikir, bertasbih, dan mengagungkan Allah, seolah-olah itu adalah bentuk persiapan untuk menyambut qiyamul lail. ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā berkata: “Apabila Rasulullah ﷺ bangun di malam hari, beliau bertakbir sepuluh kali, memuji Allah sepuluh kali, mengucapkan ‘Subḥānallāh wa biḥamdih’ sepuluh kali, mengucapkan ‘Subḥān al-Malik al-Quddūs’ sepuluh kali, beristighfar sepuluh kali, mengucapkan tahlil sepuluh kali, lalu berdoa: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sempitnya dunia dan sempitnya hari kiamat’ sepuluh kali, kemudian beliau memulai salatnya.”
Beliau memulai qiyamnya dengan dua rakaat ringan. Jika beliau salat bersama orang banyak, beliau adalah orang yang paling ringan salatnya. Namun, jika salat sendirian, beliau adalah orang yang paling panjang salatnya, terutama dalam qiyamul lail. Salat malam beliau merupakan salat yang paling panjang, baik dari sisi pembukaan, bacaan, maupun doa, sebagai bentuk ketaatan terhadap firman Allah:
“Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sedikit (daripadanya).” (Al-Muzzammil: 2). Barangsiapa merenungi keadaan Rasulullah ﷺ dalam salat malamnya, akan merasakan bahwa salat beliau benar-benar penuh penghayatan, melibatkan seluruh perasaan, bisikan hati, dan keikhlasan. Seakan ruh beliau naik menuju alam malaikat tertinggi, diselimuti cahaya dari tirai Ilahi, hingga beliau menyaksikan keagungan ‘Arsy dan bermunajat kepada Allah dengan pujian yang paling agung, sanjungan yang paling sempurna, serta doa yang paling lengkap. Tidak mengherankan, sebab beliau adalah orang yang pernah dimi‘rajkan, hingga menembus tujuh lapis langit, mendengar suara pena-pena yang sedang menulis takdir.
Karena itu, beliau adalah manusia yang paling mengenal Allah, paling sempurna imannya, dan paling benar keyakinannya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa dan paling mengenal Allah di antara kalian.”
Ketika memulai salatnya, beliau membuka dengan doa penuh pengagungan, cinta, dan kerinduan kepada Rabb-nya. Di antara doa pembuka salat malam beliau adalah:
“Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Engkaulah yang memberi keputusan di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.”
Dan doa lainnya:
“Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkau adalah cahaya langit dan bumi serta semua makhluk di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau pengatur langit dan bumi serta semua makhluk di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah Raja langit dan bumi serta semua makhluk di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah kebenaran, janji-Mu benar, pertemuan dengan- Mu benar, firman-Mu benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi itu benar, Muhammad ﷺ benar, kiamat itu benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dengan-Mu aku berdebat, kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku, yang telah lalu maupun yang akan datang, yang tersembunyi maupun yang tampak. Engkaulah Tuhanku, tiada tuhan selain Engkau. Engkaulah yang mendahulukan dan Engkaulah yang mengakhirkan, tiada tuhan selain Engkau. Tiada daya dan upaya kecuali dengan-Mu.”
Beliau juga berdoa dengan doa pembuka lain:
“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. Dengan itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, Engkaulah Raja, tiada tuhan selain Engkau. Engkaulah Tuhanku, aku hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku dan mengakui dosaku, maka ampunilah seluruh dosaku, sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Tunjukkanlah aku kepada akhlak yang terbaik, tiada yang dapat menunjukkannya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari akhlak yang buruk, tiada yang dapat menjauhkannya kecuali Engkau. Aku penuhi panggilan-Mu, segala kebaikan ada di tangan-Mu, kejahatan tidak dinisbahkan kepada-Mu. Aku ada karena-Mu dan kembali kepada-Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu.”
Apabila membaca Al-Qur’an dalam salat malam, beliau membacanya dengan tartil, tidak melewati ayat rahmat kecuali beliau berdoa memohon rahmat, tidak melewati ayat azab kecuali beliau berlindung kepada Allah, dan tidak melewati ayat tasbih kecuali beliau bertasbih. Beliau berdiri sangat lama dalam salatnya. Ibnu Mas‘ud raḍiyallāhu ‘anhu berkata: “Aku pernah salat bersama Rasulullah ﷺ pada suatu malam. Beliau terus berdiri sampai aku hampir melakukan sesuatu yang buruk.” Lalu ditanya: “Apa yang engkau maksud?” Ia menjawab: “Aku hampir duduk dan meninggalkan Rasulullah ﷺ berdiri sendiri.”
Terkadang beliau memperpanjang bacaan dengan sedikit rakaat, terkadang meringkas bacaan dengan memperbanyak rakaat. Namun salat malam beliau tidak pernah lebih dari tiga belas rakaat.
Beliau juga memperpanjang rukuknya hingga hampir sama lamanya dengan berdiri. Dalam rukuknya beliau berdoa:
“Ya Allah, hanya untuk-Mu aku rukuk, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku bertawakal. Engkaulah Tuhanku. Tunduk kepada-Mu pendengaranku, penglihatanku, darahku, dagingku, tulangku, dan urat-uratku. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. Maha Suci Dzat yang memiliki keperkasaan, keagungan, dan kebesaran.”
Di akhir hayatnya, beliau banyak mengucapkan dalam rukuk dan sujud:
“Mahasuci Engkau, ya Allah, Tuhan kami, dengan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.” Ketika ditanya ‘Aisyah tentang hal itu, beliau menjawab: “Tuhanku telah memberitahuku bahwa aku akan melihat tanda pada umatku. Jika aku melihatnya, aku akan memperbanyak membaca: Subḥānallāh wa biḥamdih, astaghfirullāh wa atūbu ilayh.” Ternyata tanda itu adalah turunnya firman Allah:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.” (An-Naṣr: 1–3). Ayat ini menjadi isyarat dekatnya ajal Rasulullah ﷺ dan perjumpaan beliau dengan Ar-Rafiq Al- A‘lā (Allah).
Beliau juga memperpanjang sujudnya sebagaimana rukuknya, serta merendahkan diri dengan doa-doa yang penuh permohonan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Saat paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa di dalamnya.”
Dalam sujudnya beliau membaca:
“Ya Allah, hanya untuk-Mu aku bersujud, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri, Engkaulah Tuhanku. Wajahku bersujud kepada Dzat yang menciptakannya, membentuk rupanya dengan sebaik-baiknya, lalu membukakan pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta. Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku, yang kecil maupun besar, yang awal maupun akhir, yang tampak maupun tersembunyi. Ya Allah, aku berlindung dengan keridaan-Mu dari murka-Mu, dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu. Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”
“Subbūḥun Quddūs, Rabbul-Malā’ikati war-Rūḥ”
Wahai Allah, betapa agungnya nabi-Mu yang mulia ini, yang bermunajat kepada Rabb-nya di keheningan malam dengan doa-doa penuh kerendahan hati, menyebut nama-Nya dengan dzikir yang sarat dengan penyucian, pengagungan, penuh cinta, kerinduan, dan kepasrahan. Betapa tinggi dan agungnya kedudukan rohani beliau yang naik ke langit, betapa besar kerinduan jiwanya kepada Rabb-nya saat beliau berzikir dan bertahajjud. Seakan-akan gunung-gunung di bumi turut mendengarkan dzikirnya, dan bintang-bintang di langit menyaksikan serta berkata: “Inilah orang yang kepadanya diturunkan firman Allah: ‘Dan sebutlah nama Tuhanmu, serta beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh-penuhnya pengabdian.’” (Al-Muzzammil: 8). Demikianlah Nabi ﷺ membagi waktu malamnya antara bacaan Al-Qur’an yang penuh khusyuk, doa yang penuh kerendahan hati, dan tasbih yang penuh kesucian, hingga tersisa sepertiga malam terakhir.
Beliau menjauhkan lambungnya dari tempat tidur, sementara orang-orang musyrik terlelap di atas ranjang mereka. Apabila telah menyempurnakan qiyamullail dan hendak menutupnya dengan witir, beliau membangunkan istrinya agar ikut berwitir bersama beliau.
Beliau biasa berwitir dengan tiga rakaat. Pada rakaat pertama membaca “Sabbihisma Rabbikal- A‘lā”, pada rakaat kedua membaca “Qul yā ayyuhal-kāfirūn”, dan pada rakaat ketiga membaca “Qul huwallāhu aḥad.” Terkadang beliau menambahkan: “Qul a‘ūdzu birabbil-falaq” dan “Qul a‘ūdzu birabbin-nās”
Pada akhir witirnya, beliau berdoa:
“Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian untuk-Mu, Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”
Apabila selesai dari witirnya, beliau mengucapkan: “Subḥān al-Malik al-Quddūs, Subḥān al-Malik al-Quddūs, Subḥān al-Malik al-Quddūs”—pada ucapan ketiga beliau memanjangkannya dan mengeraskan suaranya.
Nabi ﷺ biasa melaksanakan salat malam di kamar beliau, kamar yang jauh dari kemewahan dunia dan gemerlapnya. Terkadang beliau salat di atas khumrah (sejenis tikar kecil untuk sujud), dan terkadang tidak memiliki alas selain tikar istrinya. Beliau salat sementara istrinya terbaring di depannya. Karena di rumah beliau tidak ada lampu, jika beliau hendak sujud, beliau memberi isyarat dengan tangannya agar istrinya menyingkirkan kakinya dari tempat sujud, lalu ketika beliau bangkit, istrinya kembali meluruskan kakinya.
Kadang-kadang beliau keluar untuk salat di masjid pada waktu malam, namun itu jarang dilakukan, mungkin karena beliau khawatir membangunkan istrinya dengan suara salatnya. ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā berkata: “Aku pernah kehilangan Rasulullah ﷺ pada suatu malam di ranjangku. Lalu aku mencarinya, hingga tanganku menyentuh telapak kakinya yang sedang tegak di masjid. Aku mendengar beliau berdoa: ‘Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari- Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian-Mu. Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.’”
‘Aisyah juga berkata: “Aku kehilangan Rasulullah ﷺ pada suatu malam, lalu aku menyangka beliau pergi ke salah satu istrinya. Aku pun mencari-cari, lalu kembali, ternyata beliau sedang rukuk atau sujud sambil berdoa: ‘Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Tiada tuhan selain Engkau.’”
‘Aisyah berkata: “Maka aku berkata dalam hatiku: Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah, aku sedang memikirkan urusan duniawi, sementara engkau berada dalam urusan yang begitu agung.”

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Langkah-Langkah di Keheningan Malam Larut malam · Langkah menuju Baqi' · 3 menit baca 

Terkadang Rasulullah ﷺ keluar di waktu malam ketika tahajjud menuju rumah putrinya, Fathimah, bersama suaminya, Ali radhiyallahu 'anhu. Beliau mengetuk pintu mereka dan berseru: “Tidakkah kalian bangun untuk shalat?”
Ali berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya jiwa kami berada di tangan Allah. Jika Dia berkehendak membangunkan kami, niscaya Dia akan membangunkan kami.”
Maka Rasulullah ﷺ pun pergi meninggalkan mereka setelah aku mengatakan itu, tanpa menambahkan sesuatu pun. Namun aku mendengar beliau pergi sambil memukul pahanya dan membaca:
“Dan manusia adalah yang paling banyak membantah.” (QS. Al-Kahfi: 54)
Di akhir hayatnya, beliau ﷺ sering keluar pada malam hari menuju Baqi’, lalu mendoakan penghuni kubur di sana. Awalnya hal itu diceritakan oleh ‘Aisyah.
Ia berkata:
“Pada malam giliranku bersama Nabi ﷺ, beliau berbalik (bangun) lalu meletakkan selendangnya, melepas sandalnya dan menaruhnya di dekat kakinya. Kemudian beliau bentangkan bagian bawah sarungnya di tempat tidur, lalu berbaring. Beliau hanya tinggal sebentar, hingga aku menyangka beliau telah tidur. Tiba-tiba beliau bangkit perlahan, mengambil selendangnya dengan hati-hati, mengenakan sandalnya perlahan, membuka pintu lalu keluar, dan menutup pintunya dengan pelan.
Aku pun segera memakai baju panjangku, menutup kepala, mengenakan kerudung, lalu mengikuti beliau diam-diam hingga sampai ke Baqi’. Beliau berdiri lama di sana, kemudian mengangkat tangannya tiga kali. Setelah itu beliau berbalik, maka aku pun berbalik. Beliau berjalan cepat, aku pun berjalan cepat. Beliau berlari kecil, aku pun berlari kecil. Beliau berlari kencang, aku pun berlari kencang. Hingga aku mendahului beliau dan masuk ke rumah. Tidak lama kemudian beliau masuk dan berkata:
“Ada apa denganmu wahai Aisyah, dadamu berdebar kencang?”
Aku berkata: “Tidak ada apa-apa.”
Beliau bersabda: “Katakan yang sebenarnya, atau Allah Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui akan memberitahuku.”
Aku menjawab: “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu…” lalu aku menceritakan semuanya.
Beliau bertanya: “Jadi, bayangan hitam yang kulihat di depanku itu engkau?”
Aku menjawab: “Ya.”
Maka beliau menepuk dadaku dengan tepukan yang membuatku sakit, lalu bersabda:
“Apakah engkau mengira Allah dan Rasul-Nya akan berbuat zalim kepadamu?”
Aku berkata: “Apa yang disembunyikan manusia, Allah pasti mengetahuinya.”
Beliau ﷺ lalu menjelaskan:
“Sesungguhnya Jibril datang kepadaku pada saat engkau melihatku (keluar). Ia memanggilku dan aku pun menjawabnya, tetapi aku menyembunyikannya darimu. Sebab ia tidak biasa masuk ketika engkau sudah menanggalkan pakaianmu, dan aku menyangka engkau sudah tidur, maka aku tidak ingin membangunkanmu, dan aku khawatir engkau akan merasa takut sendirian. Jibril berkata: ‘Sesungguhnya Tuhanmu memerintahkanmu untuk pergi ke penghuni Baqi’ dan memohonkan ampunan untuk mereka.’”
Aku (‘Aisyah) berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan untuk mereka?” Beliau bersabda:
“Katakanlah: Assalamu’alaikum ahlad-diyari min al-mu’minina wal-muslimin, yarhamullahu al- mustaqdimina minna wal-musta’khirin, wa inna in syaa Allahu bikum laahiqoon. (Keselamatan atas kalian wahai penghuni negeri dari kaum mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah lebih dahulu di antara kami maupun yang kemudian, dan sesungguhnya kami – insya Allah – akan menyusul kalian).”
Sejak saat itu, beliau ﷺ selalu keluar setiap malam di akhir malam menuju Baqi’, dan berkata: “Salam sejahtera atas kalian wahai penghuni negeri kaum beriman. Telah datang kepada kalian apa yang dijanjikan. Besok kalian akan ditangguhkan, dan sesungguhnya kami – insya Allah – akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah penghuni Baqi’ al-Gharqad.”

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Renungan Larut malam · Renungan · 1 menit baca 

Subhanallah… Inilah Nabi ﷺ, yang berjalan di keheningan malam, berdiri di hadapan kuburan sahabat-sahabatnya yang telah mendahului menuju Allah sebelum mereka sempat menyaksikan pertolongan Allah, kemenangan, dan berbondong-bondongnya manusia masuk Islam.
Mereka wafat dalam keadaan sedikit jumlahnya, dalam masa sulit, penuh ujian, sabar, dan penderitaan. Mereka telah sampai kepada Tuhan mereka tanpa tergesa-gesa mengharap balasan di dunia.
Dan kini, Rasulullah ﷺ – meskipun disibukkan oleh banyaknya umat yang datang, serta meluasnya wilayah Islam – tetap meluangkan waktu dari istirahatnya untuk berdiri di hadapan kuburan sahabat-sahabatnya. Beliau mengingat kenangan mereka, menengadahkan tangan dalam doa, penuh kasih sayang dan kesetiaan.
Beliau ﷺ hampir akan meninggalkan dunia, maka beliau pun berpamitan – baik kepada yang hidup maupun yang telah wafat – sebelum bertemu dengan al-Rafiq al-A’la (Teman Tertinggi), di tempat yang paling mulia.

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Tidur Sejenak Menjelang Fajar Waktu sahur · Tidur sejenak menjelang fajar · 1 menit baca 

Apabila malam telah berlalu, dan yang tersisa hanyalah bagian akhirnya – sepertiga terakhir atau keenam terakhir dari malam – maka Rasulullah ﷺ kembali ke pembaringannya, untuk memberi istirahat kepada tubuh mulianya setelah menghabiskan panjangnya malam dengan dzikir, shalat, doa, serta perhatian kepada kerabat yang masih hidup dan sahabat-sahabat yang telah wafat.
Beliau ﷺ pun tidur sejenak, sekadar untuk menyegarkan badan setelah berdiri (shalat malam), agar siap menyambut shalat Subuh dan aktivitas siang hari dengan semangat dan kesiapan penuh.
Maka berlalu sejenak waktu sahur itu, sementara Nabimu ﷺ sedang terlelap dalam tidurnya. Ummul Mu’minin ‘Aisyah berkata:
“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah ﷺ pada waktu sahur kecuali beliau dalam keadaan tidur.” (HR. Muslim, no. 258)
Beliau ﷺ tetap berada dalam tidurnya itu hingga cahaya fajar membelah kegelapan malam, dan lantunan adzan Bilal memecah keheningan kota Madinah. Saat itulah Rasulullah ﷺ bangun, memulai hari baru yang penuh dengan aroma kenabian dan bercahaya dengan sinar risalah.

Tandai sudah dibaca Bab berikutnya



 Membaca Hari Nabi Sehari penuh · Ringkasan dan pelajaran · 5 menit baca 

Hari Nabi ﷺ merupakan potret vertikal dari keseluruhan kehidupan beliau yang luas. Dari potret sehari itu tampak bagi kita sekumpulan makna yang mendalam:
1. Hari Nabi ﷺ adalah wadah waktu bagi pencapaian besar yang terwujud melalui tangan beliau. Sejarah tidak pernah mengenal capaian yang dilakukan oleh seorang manusia seperti yang telah terwujud melalui Rasul mulia ini.
2. Kejelasan hidup beliau ﷺ luar biasa hingga seterang cahaya. Tidak ada sisi gelap, tidak ada bagian yang hilang. Bahkan kita mengetahui bagaimana keadaan beliau di rumah ketika menutup pintu, bagaimana tidurnya di samping keluarganya, hingga suara napasnya saat tidur, dan ucapan pertamanya ketika bangun.
Aku merasa, saat menelusuri jadwal harian Nabi ﷺ, seakan aku lebih mengenal beliau daripada mengenal ayahku sendiri. Maka jiwaku, ibuku, dan ayahku menjadi tebusan untuknya. Beliau adalah cahaya kehidupan, seorang Nabi yang berjalan di bawah sinar matahari.
3. Ibadah terdalam beliau adalah ibadah rahasia. Yaitu ibadah yang beliau lakukan di rumahnya, dalam keheningan malam, yang beliau jalani secara konsisten hingga wafat. Itu adalah bukti kenabian; tidak mungkin hal sebesar itu sekadar pura-pura. Itu adalah tanda keyakinan sejati dan iman yang mendalam terhadap apa yang beliau sampaikan.
4. Meski mendapat kabar gembira ampunan Allah, beliau adalah orang yang paling banyak istighfar. Setiap pagi beliau membuka harinya dengan istighfar seratus kali, dan dalam satu majelis bisa lebih dari seratus kali beliau mengucapkan, “Astaghfirullāh wa atūbu ilaih.” Beliau juga berdoa dalam shalat malam:
“Ya Allah, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, serta yang lebih Engkau ketahui dariku. Engkau-lah Yang Maha Mendahulukan dan Yang Maha Mengakhirkan. Tiada ilah selain Engkau.”
Padahal beliau telah diampuni, tidak pernah berbuat dosa ataupun salah. Maka bagaimana dengan kita, yang waktu hidupnya penuh dengan kesalahan? Ya Allah, ampunilah kami.
5. Lisan Nabi ﷺ senantiasa basah dengan dzikir. Beliau hidup dalam cinta dan kerinduan kepada Allah ﷻ, seakan senantiasa melihat keagungan-Nya. Dzikir adalah ucapan pertama beliau saat bangun, ucapan terakhir sebelum tidur, mengiringi pagi, siang, sore, dan malam beliau.
6. Beliau ﷺ selalu mendirikan shalat di awal waktu, kecuali isya. Kadang isya sedikit ditunda. Beliau berbincang dengan para sahabat biasanya setelah subuh dan dzuhur, karena saat itu manusia segar dan bersemangat. Jarang berbicara setelah ashar atau isya, karena orang lelah. Tidak pernah berbicara setelah maghrib, karena orang butuh makan malam.
7. Keseimbangan hak dan aktivitas. Beliau menunaikan ibadah, menyampaikan risalah, memberi hak keluarganya, mendampingi sahabat, menjaga diri, memenuhi tamu, anak, dan sahabatnya. Semuanya seimbang, sebagaimana sabda beliau:
“Sesungguhnya tubuhmu punya hak atasmu, matamu punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, tamumu punya hak atasmu, anakmu punya hak atasmu, dan sahabatmu punya hak atasmu.”
Maka beliau benar-benar memberi setiap orang haknya.
8. Hidup beliau penuh aktivitas, tetapi tenang tanpa kegelisahan. Meski sibuk, beliau selalu tenang, tidak terlihat cemas atau terburu-buru. Jika duduk di rumah, tidak tampak sedang ditunggu urusan besar di luar. Jika duduk dengan sahabat, beliau hadir sepenuh hati, tanpa tergesa.
9. Hidup beliau teratur tetapi tidak kaku. Shalat menjadi pengatur waktu. Majelis beliau bisa panjang atau pendek sesuai kebutuhan. Tidak ada kekacauan, tetapi juga tidak ada kekakuan. Ada keseimbangan antara disiplin dan fleksibilitas.
10. Kesederhanaan dan spontanitas. Beliau gembira bersama yang bergembira, bercanda, bahkan membantu orang menyembelih atau memasak dengan tangan beliau sendiri.
Kesederhanaan itu menghancurkan jarak dengan manusia, sehingga hati mereka sepenuhnya menyatu dengan hati beliau.
11. Kegembiraan dan kehangatan selalu ada di rumahnya. Beliau ceria dan tersenyum. Dalam majelis, ada tempat untuk humor dan keceriaan. Beliau menyaksikan hiburan orang Habasyah di masjid dan bahkan mengajak istrinya untuk ikut melihat. Beliau berkata:
"Bermainlah, wahai Bani Arfidah, agar orang Yahudi dan Nasrani tahu bahwa dalam agama kita ada kelapangan.”
Agama beliau penuh kelapangan, penuh ruang untuk keceriaan.
12. Cinta dan hubungan rumah tangga yang hangat. Terlihat dari minum bersama dalam satu bejana, saling menyuapkan makanan, bercakap mesra di malam hari, saling mengunjungi, membantu pekerjaan rumah, hingga keintiman di ranjang.
13. Memahami fitrah manusia. Dalam shalat berjamaah, beliau paling ringan bacaan dibanding orang lain, padahal jika shalat sendiri beliau paling panjang. Jika mendengar bayi menangis, beliau meringankan shalat karena tahu ibunya sedang gelisah.
14. Shalat malam adalah ibadah paling dalam. Itu adalah momen puncak kedekatan spiritual beliau.
15. Aktivitas beliau terbagi dalam tiga puncak energi:
Malam hari dalam qiyamul lail.
Setelah subuh hingga pagi bersama para sahabat.
Setelah dzuhur, karena didahului tidur siang.
16. Shalat sebagai pembagi waktu. Seluruh aktivitas hidup beliau diatur berdasarkan waktu shalat.
17. Pembagian waktu sehari Nabi ﷺ secara umum dapat diringkas:
A. Waktu Fajar
Beliau ﷺ bangun untuk salat Subuh setelah tidur pada waktu sahur. Setelah itu beliau menunaikan salat Subuh, lalu duduk di tempat salatnya bersama para sahabat hingga terbit matahari. Kemudian beliau melakukan kunjungan pagi ke rumah-rumah para istrinya. Setelah itu, beliau duduk di masjid pada awal waktu dhuha bersama para sahabat, yang merupakan majelis zikir, ilmu, dan tarbiyah. Terkadang setelah majelis itu beliau melakukan kunjungan, baik kepada putri-putrinya ataupun sebagian sahabatnya, atau terkadang beliau keluar untuk mengurus urusan pribadinya.
Jika waktu dhuha sudah tinggi, maka itu adalah waktu istirahat dan tidur siang (qailulah). Beliau tidur siang sebelum salat Zuhur, sebagai istirahat bagi badan sekaligus bekal untuk bangun di malam hari.
B. Waktu Zuhur
Beliau bangun untuk salat Zuhur, lalu menunaikan salat. Jika ada sesuatu yang penting, beliau berkhutbah setelah salat Zuhur—dan kebanyakan khutbah beliau disampaikan pada waktu ini. Setelah itu beliau kembali ke rumah, menunaikan salat sunnah rawatib, lalu keluar dan duduk bersama para sahabat, atau pergi untuk mengurus sebagian urusannya. Sebab waktu antara Zuhur hingga Asar biasanya digunakan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan.
C. Waktu Asar
Beliau menunaikan salat Asar pada awal waktunya. Setelah itu beliau melakukan kunjungan sore ke rumah para istrinya. Terkadang mereka berkumpul di rumah salah seorang dari mereka, tempat beliau sedang berada. Seakan-akan waktu antara Asar hingga Magrib merupakan waktu santai keluarga.
D. Waktu Magrib
Beliau menunaikan salat Magrib pada awal waktunya, kemudian makan malam. Beliau tetap berada di rumah, karena inilah waktu makan utama beliau, yaitu makan malam.
E. Waktu Isya
Beliau menunaikan salat Isya, kemudian kembali ke rumah. Beliau bercengkerama dengan keluarganya, atau terkadang pergi berkunjung ke sebagian kaum Anshar, atau duduk bersama Abu Bakar dan Umar di rumah Abu Bakar ra. untuk bermusyawarah dalam urusan negara dan perkara kaum Muslimin. Setelah itu, beliau kembali ke rumah dan tidur hingga pertengahan malam.
Saat tengah malam, beliau bangun untuk salat malam. Pada waktu inilah beliau berada dalam puncak semangat setelah tidur terpanjangnya. Beliau terus salat dan bermunajat selama sepertiga malam, hingga apabila tinggal seperenam malam terakhir, beliau kembali ke tempat tidurnya untuk beristirahat sejenak—itulah tidur sahur—hingga tiba waktu salat Subuh.

Tandai sudah dibaca Selesai — kembali ke awal hari
Sehari Bersama Nabi ﷺ
Dr. Abdul Wahhab ath-Thurairi · alih bahasa Abdul Khoir Rahmat, Lc
Semoga menjadi jalan mengenal beliau lebih dekat.